Kamis, 15 Desember 2016

"Meskipun sang Maryam menghadapi tuduhan keji dan keadaan sulit, namun Allah tetap mengatakan padanya (yang artinya): "Makan dan minumlah, dan bersenang-hatilah kamu" (Qs. Maryam:26)

Jalanilah hidup ini seperti biasa dan berbahagialah selalu, karena ada beberapa masalah yang solusinya hanya ada di tangan Allah, cukup di ceritakan kepada Allah.

---

Setidaknya, dengan segala yang sudah terlewati itu, ada banyak hikmah yang bisa di bawa pulang. Dan mungkin, sembuhnya kamu adalah kado terindah buat Bapak.
Selamat 'kembali' adik kecil.
Semoga setelah ini, iman itu kian terasa manis. Asal sabar asal ikhlas, ya sayang.❤❤

*Kak Iin, buat adik yang alhamdulillah udah balik baiknya, udah balik ngeselin-nyenenginnya, biar belum ilang keras kepalanya..❤❤

Suatu sore, menuju pertengahan Bulan terakhir..

Minggu, 11 Desember 2016

Scroll Buat Bapak

Waktu rasanya begitu cepat melesat, meninggalkan kita dengan kenangan-kenangan yang rasanya tak akan habis meski hanya untuk dikenang.
Menjadi saksi bagaimana perjuangan seorang laki-laki yang bergelar Bapak, rasanya begitu menyenangkan, sebab menjadi bagian dari laki-laki yang penuh dengan kehangatan, Kasih sayang, tanggung jawab, lucu dan menggemaskan adalah anugrah yang tak akan terbeli dengan benda yang bernama rupiah. Sebab ini tentang perasaan, perasaan syukur.

___

Laki-laki yang rela menghabiskan waktunya dari pagi, pulang disiang hari, sorenya pergi lagi hingga benar-benar pulang di waktu tengah malam. Menghabiskan tenaga sampai penghabisan hanya untuk mencari rupiah yang diberikan seluruhnya pada keluarga.
Bagaimana bisa sekuat itu Jika bukan cinta yang bekerja?

Laki-laki yang menghabiskan waktu puluhan tahun merawat pendamping hidup yang sakit-sakitan dan tidak pernah lelah kesana kemari meyempurkan ikhtiar hanya demi kata "sembuh".
Bagaimana bisa sesabar itu, jika bukan cinta yang bekerja?

Laki-laki yang sebisa mungkin selalu makan masakan rumah. Jikapun makan diluar, makanan selalu dibungkus dan dibawa pulang. Dengan alasan "biar sama-sama merasakan".
Perasaan yang selalu merindukan rumah. Bagaimana bisa seperti itu Jika bukan cinta yang bekerja?

Laki-laki yang selalu ingin mendampingi, laki-laki yang lebih banyak bersabar menghadapi tat-tit-tut-tet-tot- tiga bocah yang kini kian tumbuh mendewasa. Bagaimana bisa Jika bukan Cinta yang bekerja?

___

Dan tepat di hari ini, menggenaplah angka lima puluh enam tahun untuk Bapak, meski katanya Bapak sebenarnya lebih tua dari kalkulasi angka di KTP, tapi buat iin Bapak selalu muda dan ketceeh, masih anteng di bawa kemana-mana, masih cakep jadi teman menghadiri undangan😂😅..

Selamat hari ulang tahun Bapak, selamat bertambah usia. Semoga Allah kian meluaskan ruang kesabaran di hati, kian berkah umurnya, kian baik hubungannya dengan Allah, kian banyak manfaatnya untuk orang lain, kian sayang sama tiga serangkai di rumah..aamiin.. ❤❤

Sekarang, kalau ditanya lagi dengan pertanyaan yang sama, "kamu mau laki-laki yang bagaimana?"
jawabannya juga tidak akan berubah, "kurang lebih seperti Bapak saya"..

Meski ada satu dua sifat Bapak yang buat iin kurang berkenan, tapi nggak akan pernah mampu menghilangkan setiap mili alasan untuk lebih lebih lebih lebiih sayang Bapak..

Terimakasih, Pak.. Terimakasih sampai habis kata.. :")

*semoga Bapak ndak nangis abis baca ini

Kamar, 12-12-2016

Kamis, 08 Desember 2016

Bersyukurlah


jika saat kau membaca tulisan tentang hijab, lantas kamu tersinggung. Bersyukurlah, karena memang itu untukmu.

jika saat kau mendegarkan ceramah tentang islam melarang pacaran, lantas kamu tersinggung. Bersyukurlah, karena ceramah itu memang ditujukan padamu.

jika saat kau diajak agar jangan membicarakan orang, lantas kamu tersinggung. Bersyukurlah, karena ajakan itu ada untukmu.



Saat seseorang mengajak pada kebaikan, lantas kamu tersinggung, lantas hatimu merasa tak nyaman, lantas kamu merasa memang melakukan itu. Bersyukurlah.

Bersyukurlah, karena masih ada bagian dari hatimu yang Allah biarkan agar terketuk.

Bersyukurlah, karena Allah masih memberikan kesempatan bagi dirimu untuk berubah.

Bersyukurlah, karena masih kesempatan bagi hatimu untuk terbuka.
Bersyukurlah, karena hati ini masih mungkin menerima hidayah.

Karena, jika saat diajak pada kebaikan lantas kau tak merasakan apapun sama sekali, tak merasa risih, tak merasa bersalah, tak merasa memiliki dosa, merasa orang lain “sok alim” atau “sok agamis”, Bisa jadi, Allah telah menutup dan mengunci hatimu.

“Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman.” 
“Allah telah mengunci-mati hati dan pendegaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka, siksa yang amat berat” (Q.S. Al-Baqarah : 6-7)

Maka, bersyukurlah saat kau tersinggung, karena di hati kecilmu ingin berubah menjadi baik, walau hanya sedikit. Tinggal masalah waktu, hidayah datang dan meluluhkan hati yang keras.
Selamat berubah menjadi lebih baik kawan.
 Semoga kita bukanlah bagian dari orang-orang yang dikunci hatinya, dimatikan pendengarannya, dan ditutup penglihatannya.



Teras Rumah Bersama Guyuran Hujan, 10 Desember 2016
“Dan hati manusia selalu berubah-rubah, bagaikan bulu yang diombang-ambing oleh angin di tengah tanah yang lapang” (HR. Ibnu Majah)
 
 
  Maka wajar, asalnya rajin ibadah, besok-besok solatnya ditunda-tunda.

Maka wajar, hari ini rajin gibah, besok-besok yang sering mengingatkan.

Maka wajar, hari ini benci, besok-besok yang paling merindukan.

Hati itu berubah-rubah. Itu kenapa, yang sulit dari melakukan, adalah istiqomah.

MENGAPA BERBEDA?


“Kak, kenapa ya, kalau di tulisan, sama aslinya, beda yah?”



Sering kali kita bertemu orang yang perilakunya berbeda dengan tulisannya. Nampak dalam tulisannya begitu sempurna, bahkan nyaris tak ada kekurangan, sedang dalam kesehariannya, banyak kesalahan-kesalahan yang dibuatnya.
Wajar saja.

Tulisan-tulisan yang hebat, dia tidak dibuat dalam sekali tulis. Ketika salah menulis, typo, salah memilih kata, maka mudah bagi kita untuk menghapus dan juga mengeditnya kembali, melihatnya kembali, dan akhirnya membuat semua tulisan menjadi nampak sempurna. Bahkan, penulis-penulis hebat pun, takkan mampu membuat tulisan yang terus menerus sempurna tanpa melakukan editing.
Sedang dalam berprilaku, tak sekalipun perilaku kita yang salah, bisa kita ulangi atau pun kita edit. Dia akan mengalir, tanpa bisa diulangi. Seringkali, perilaku kita keluar secara spontan, tanpa kita fikirkan akan berdampak apa. Kita bisa memilih kata-kata yang baik dalam tulisan, tapi dalam bertindak, kadang kita diminta cepat untuk memilih sesuatu dalam mengambil keputusan yang bisa jadi putusan tersebut berdampak baik ataupun buruk.

Maka dari itu, dalam menjalani setiap level dalam kehidupan, kita harus berhati-hati, baik memilih kata untuk berbicara, menentukan langkah, menjalankan solusi dalam menghadapi masalah, karena tak satupun keputusan yang kita buat, bisa kita tarik kembali.
Hidup ini sesungguhnya jauh lebih sulit, dibanding membuat tulisan di blog.



Kamar, 24 Desember 2016

Selasa, 06 Desember 2016

Ruang kosong

Perlahan-lahan manusia mulai meninggalkan takdirnya sebagai makhluk sosial, menuju hidup yang lebih individualistis.
Kemandirian dibangun dengan rasa curiga pada orang lain dan keinginan untuk mengalahkan, bukan pada rasa percaya dengan dukungan sesama. Sehingga kita hidup bersama, tapi bukan untuk berbagi.
Kita hidup dalam kelompok, tapi bukan untuk saling terhubung, kita mungkin bergandengan tangan dipermukaan, tapi berselisih dalam hati.

Barangkali, dulu, ketergantungan antar manusia lebih terasa. Sebelum telepon ditemukan, kita sangat bergantung pada pertemuan tatap muka. Sebelum Google tercipta, kita sangat membutuhkan untuk tempat bertanya dan berdiskusi. Sebelum segala kemudahan teknologi dan ekonomi yang ada kini kita menyadari bahwa kesendirian tidak bisa menjadi cara untuk bertahan hidup.

Tapi kemudahan hanya ilusi.
Sebenarnya, hidup berjalan lebih sulit dari sebelumnya.

Kita tak ubahnya seperti sekawanan semut yang ditakdirkan hidup berkoloni tapi memilih untuk meninggalkan koloni dan hidup masing-masing. Membangun sarang sendiri-sendiri, mencari makan sendiri-sendiri. tak terelakkan lagi, kolaborasipun berubah menjadi kompetisi. Perkawanan berubah menjadi perlawanan. Satu sama lain kita bersaing. Bersaing memiliki sarang terbesar, bersaing memperebutkan makanan, bersaing mendapatkan hidup yang lebih baik.

Sepertinya hidup menjadi lebih mudah dan maju. Tetapi, jauh di dalam jiwa, kita kesepian..

Dan berbagai kompensasi yang kita penuhi untuk mengusir kesepian itu; kesibukan, kepopuleran di dunia maya, dan perasaan bebas, tak juga mampu memenuhi ruang kosong dalam hati.

Kita mungkin memiliki banyak perbedaan, pengalaman dikecewakan, pengalaman disakiti orang lain, yang membuat kita berpikir untuk memutus hubungan dengan orang lain. Tapi kita juga memiliki satu hal yang saling beririsan, yakni bahwa kita adalah makhluk koloni, kita adalah semut-semut yang akan mencipta banyak makna jika bersama. Kita tidak bisa hidup sendiri..

"No man is an island, entire of itself; every man is a piece of the continent, a part of the main"
-John Donne

Mari mendekat, untuk menghubungkan kembali yang terputus. Mari membuka hati untuk saling mengisi. Mari awali semua itu dengan saling mendengarkan..

Kamis, 01 Desember 2016

Aksi Damai 212

Lagi-lagi aku teringat kisah seekor semut yang mengusung air untuk mematikan api yang membakar Nabi Ibrahim as. Ketika binatang lain menertawakannya dan berkata, "hai semut, percuma airmu yang sedikit itu tidak bisa mematikan api". Jawaban semut adalah, "biarlah. Namun dengan begini aku menunjukkan sikap (pada Allah) kepada siapa aku berpihak".

Nabi Ibrahim as tidak perlu ditolong oleh makhluk lain, sebab Allah pasti menolongnya. Tapi itu adalah cara semut beragama.

Mungkin ini analogi yang tidak relevan, tapi aku secara pribadi menghubungkan kisah ini dengan event hari ini.
Katakanlah islam tidak perlu dibela, tapi melakukan protes pada penistanya adalah adalah salah satu menunjukkan sikap (pada Allah) kepada siapa kita berpihak. Jikapun tidak bisa mengikuti event nya, setidaknya mendoakan dari rumah.

Satu lagi kata-kata Murabbi yang membuat aku merasa ditembak mati: "kalau Umar Bin Khattab masih hidup, apakah dia akan diam atau tidak diam?"

Berdasarkan sejarah, sudah bisakah menebak jawabannya?  Silahkan mau memilih mengikuti sahabat Rasul atau tidak. Kalaupun tidak bisa berbuat apa-apa, setidaknya mendukunglah dengan berdoa...