Suatu hari akan ada seseorang yang cukup baik budinya untuk membuat
tertarik. Cukup luas hatinya untuk tempatmu tinggal. Cukup bijaksana
pikirannya untuk kamu ajak bicara.
Kamu tidak perlu menjadi
orang lain untuk mempertahankan seseorang, tetap jadilah diri sendiri.
Kamu pun tidak (dan jangan) menuntut orang lain menerima keadaanmu bila
ia memang tidak mampu menerimanya. Karena yang baik belum tentu tepat.
Orang
baik itu banyak sekali dan hanya ada satu yang tepat. Selebihnya
hanyalah ujian. Kamu tidak pernah tahu siapa yang tepat sampai datang
hari akad. Tetaplah jaga diri selayaknya menjaga orang yang paling
berharga untukmu. Karena kamu sangat berharga untuk seseorang yang
sangat berharga buatmu nantinya.
Suatu hari akan ada orang yang
cukup baik dan cukup luas hatinya untuk kamu tinggali. Cukup kuat
kakinya untuk kamu ajak jalan bersama. Lebih dari itu, ia mampu
menerimamu yang juga serba cukup.
Rabu, 23 Maret 2016
Rabu, 16 Maret 2016
Hey! Kita nggak mesti ‘seragam’ kok!
Muslimah, satu kata yang mungkin bisa membuat para bidadari cemburu, atau
bahkan bisa buat akhi-akhi harus gudhul bashor dengan sebenar-benarnya
(lahir-batin, maksudnya), yang kadang bisa buat para wanita diluar ‘label’ itu
berdecak atau bahkan merasakan impact keteduhannya. MasyaAllah!
Ini membuatku seolah
mengadakan penelitian kecil-kecilan (ceritanya), dengan menyodorkan sebuah
pertanyaan singkat, padat dan jelas; “Muslimah, menurut kalian itu seperti apa
sih?”. Dan ternyata jawabannya tak se simple itu, satu pertanyaan yang
ternyata melahirkan anak-anak jawaban
yang nggak kalah MasyaAllahnya;
-kalem
-lembut
-manis (gulaa
kali yak!)
-wajahnya teduh
(mungkin saat itu muslimahnya sedang diselimuti awan mendung, heheh.. kidding)
-tutur katanya ‘enak’
didenger
-nggak
‘sembarangan’ sama lawan jenis (mungkin maksudnya; nggak colak-colek sambalado,
nggak hahah..hihi.. ckckck… wkwkwk.. kali ya.. ^^)
-pintar
-ke-ibu-an
(keibuan lho ya, bukan ‘ibuq-ibuq’)
-ramah
Uffft….jawaban yang cukup
membuat tarik nafaas, hempaskan, tariik nafaas lagi, hempaskan lagi
(bukan Sya****i -_-!), dalam hati berdecak ‘banyak juga ya syaratnya’ :D. But,
well, izinkan yang menulis ini menyampaikan beberapa atau secuuuil gambaran
tentang muslimah yang ada di balik batok kepala ini, ekhemm (sebenernya belum
pantes).
Ketika mendengar kata Muslimah, maka yang terlintas adalah nama-nama
wanita LUAR BIASA yang saking luar biasanya hingga di sebutkan dalam kitab
penuh cinta sekaligus panduan hidup, Al-qur’an karim dan hadist-hadist yang tak
akan habis dihitung 10 jari kecil ini, siapakah dia? Adalah Maryam Binti Imran,
yang terkenal dengan kesucian, kesabarannya, kepandaiannya menjaga maruah.
Ada Khadijah Binti Khuwailid, satu-satunya wanita yang begitu beruntung,
kenapa? Sebab beliau adalah satu-satunya wanita yang mendapat salam langsung
dari Rabb seluruh alam, dikarenakan sikap beliau yang begitu penyayang
penerimaan beliau terhadap Rasulullah, menjadi orang pertama yang mempercayai
perihal kenabian Muhammad Saw, yang menyemangati Rasulullah dikala itu. Lanjut,
ada Aisyah Binti Abu Bakar, siapa yang tak kenal dengan nama ini? Sosok
perempuan yang terkenal cerdas, ceria nan manja, sosok yang karena
kecerdasannya mampu melahirkan banyak hadist bahkan di usia 18 tahun!, kemudian
tak lupa dengan sosok putri kesayangan Baginda Muhammad Saw, siapa lagi kalau
bukan Fathimah Az-Zahra binti Muhammad yang bergelar Ummu Abiihaa (Ibu
bagi ayahnya), wanita yang begitu sederhana dan mewarisi sikap-sikap sang Ibu dan
Ayah yang begitu luar biasa, yang juga
mashur melalui kisah cinta dalam diamnya bersama Ali yang bahkan setanpun tak
tahu tentang perasaan mereka, MasyaAllah!. Atau dengan Nusaibah bintu
ka’ab yang terkenal dengan akhwat jago karate yang melindungi Rasulullah
kemanapun beliau bergerak dalam perang.
Itu karakter yang sesuai dengan jenis kelamin yang nulis ya, kemudian
beranjak sedikit saja, namun masih di lahan yang sama, lahan karakter. Ingin
mengambil ibroh dari para Nabi dan sahabat-sahabat di zaman Rasulullah
yang memiliki karakter yang lebih masyaAllah. Sebagaimana yang
diriwayatkan imam Muslim tentang salah satu episode indah tentang perbedaan
karakter Abu Bakar dan Umar. Perbedaan yang membuahkan penyikapan lain terhadap
tawanan perang badar. Tetapi, masyaAllah dengarlah komentar Rasulullah
Saw tentang perbedaan mereka;
“Sesungguhnya Allah melunakkan hati orang-orang tertentu sampai ada yang
lebih lunak dari susu dan Allah mengeraskan hati orang-orang tertentu sampai
ada yang lebih keras dari batu. Sesungguhnya engkau wahai Abu Bakar, bak
Ibrahim yang berkata:
“Barang siapa yang mengikutiku maka ia termasuk ke dalam golonganku,
dan barang siapa yang mendurhakaiku, maka sesungguhnya Engkau Maha Pengampun
lagi Maha Penyayang” (QS. Ibrahim 36)
Dan Engkau wahai
Umar, tak ubahnya seperti Musa yang berkata:
“.. wahai
Rabb kami, binasakanlah harta benda mereka dan kunci matilah hati mereka karena
mereka tidak beriman hingga mereka menyaksikan siksa yang pedih” (QS.
Yunus; 88).
Disini aku tersenyum, iya senyum,
luar biasa, kan? Ya. Manis sekali rasanya perbedaan sikap dari tiap-tiap insan
yang penuh dengan pembelajaran yang sejatinya bermuara pada satu hal, yaitu
menjalankan islam yang rahmattan lil alamin. Alangkah sunyi dunia jika
semuanya seragam, biarkan semua karunia karakter yang Allah lekatkan pada diri
sendiri.
Oke, see.. kita nggak perlu
maksain diri untuk menjadi orang lain, buat para muslimah yang manis-manis dan
imut dengan jilbabnya, bahwa jilbab itu bukan topeng dan bukan tameng. Kita nggak
perlu mendadak jadi pendiam ketika telah memutuskan berhijab, memaksakan diri
yang kalau di rumah itu ceria dan membahana untuk menjadi seorang yang seperti
tersebut di ciri-ciri sebelumnya, hanya tentu harus ada yang diingat, nggak
semua orang bisa di perlakukan dengan seaseeelinya kita,taukan
maksudnya? Ya. non mahram, lihat sikon juga ya J
“Celupan
warna Allah. Dan siapakah yang lebih baik celupan warnanya dari pada Allah. Dan
padaNya sajalah kami beribadah” (QS. Al-Baqarah 138)
Grasak-grusuk Pasang Sarung
Momen itu bermula ketika
panggilan penuh cinta telah menggema, pertanda langit akan meng-orange
dan menggelap dengan indahnya. Tatkala kaki-kaki itu melangkah dengan harapan
akan mendapatkan sesuatu yang lebih dari Rabbnya, satu-persatu masing-masing
orang menapaki kaki meraka menginjak lantai masjid yang berukuran kurang lebih
5000 meter itu.
Ketika
iqamat telah berkumandang, bersama hempasan riak-riak udara yang
bercampur dengan syahdunya lantunan cinta kalam ilahi bersatu dengan suara sang
imam, ah… sejuk nian rasanya. Hingga akhirnya selesailah “proses pernyataan
kehambaan” itu yang ditutup dengan sholawat yang tiada putus dari seluruh
jemaah. Bersalaman satu-persatu, satu sama lain, bersentuhan dengan
tangan-tangan yang jelas tampak tak kencang lagi, hingga suasana menjadi
sedikit senyap, mereka beranjak satu-persatu meninggalkan rumah Allah itu dan
hanya tersisa beberapa orang saja.
Aku
menepi, mengambil posisi berdekatan dengan jendela pembataas antara laki-laki
dan perempuan, melaksanakan dua rakaat yang dianjurkan kekasihNya. Saat sujud
pertama…
“Tungguin, sama-sama caranya”
“Ayok makanya!”
“E.. sarung saya ini!”
“Sarung saya mau jatuh”
“Gini, makanya!”
“Kamu aja kedodoran,, hahaha!”
Suaranya
kecil, namun begitu berisik, katakan saja mereka sedang berbisik dengan
antusias, dan payahnya bisik-bisik it uterus berlanjut, hingga sujud yang
keempat. Jujur saja, itu benar-benar membuatku tak konsentrasi.
“Assalamualaikum
waroh matullah” ke kanan dan kiri, tak sempat menengadahkan tangan, aku menoleh
kebelakang, tepat di belakangku. Mereka bukan perempuan! Mereka berjumlah tiga
orang, dengan tinggi badan yang nyaris sama, postur tubuh yang sama, mungkin
berusia sama (kira-kira 4 tahun), dan tentu saja, ini bukan area yang seharusnya,
but well, anggap saja mereka masih belajar menjadi anak kecil yang
taat.
“Mau sholat
jemaah pas orang sudah selesai, ngapain dateng” Dengan nada sinis yang tentu
mengarah pada tiga anak ini, kurang lebih begitu kata seorang perempuan yang
dari wajahnya jelas tak muda lagi. Mendengarnya, aku menghela nafas, tersenyum.
“Sini, kakak
bantu benerin ya..” kataku pada anak yang di tengah, ia pasrah saja, hanya
berdiri, diam dan melihat (mungkin merasa aneh).
Saat itu aku
mulai mengingat-ingat bagaimana Abang (sebutan untuk adik laki-lakiku) biasa
mngenakan sarung ketika sholat, “Diatas mata kaki!” kataku dalam hati, seperti
mengingat jawaban dari soal ulangan.
Ternyata tak
semudah ketika Abang mengenakan sarung, yang set set set langsung rapi!.
Aku tak henti tersenyum, bagaimana tidak, anak umur 4 tahun mengenakan sarung
dengan size yang sama dengan sarung untuk ukuran Bapak-bapak (kebayang
gak tuh? :D). Ketika aku berusaha menggulung sarung itu keatas dan fokus pada
mata kaki. Kau tau apa yang terjadi ketika akhirnya mata kaki itu terlihat? Aku
seperti merasa berhasil! Dan saat melihat pada bagian atasnya (perut), aku
tertawa, iya tertawa, anak laki-laki yang imut dan ramping itu terlihat seperti
bapak-bapak dengan perut extra buncit!! Merekapu tersenyum melihat aku tertawa
(entah mereka mngerti atau tidak maksud dari tawaku). Dan alhamdulillaah,
meski dengan keadaan perut-perut yang buncit, mereka memulainya, “penghambaan
seorang anak kecil”
Simple, seperti
cerita hidup lainnya, ketika ada yang berusaha untuk menjadi lebih baik, maka
akan ada orang-orang yang mencibir, meremehkan, menjatuhkan, dan
kawan-kawannya. Oke see, nggak apa-apasih kalau orang yang mendengar
kata-kata cibiran itu menganggapnya sebagai “cambuk panas”, tapi bagaimana
dengan orang-orang yang memiliki karakter “lemah iman?”. Apa salahnya kalau
kita bisa mengambil bagian menjadi “kubu kanan”, membantu dan memudahkan jalan
orang lain “bertemu” Tuhan?, toh, bukankah memudahkan urusan orang lain
juga sebuah ibadah?
#Potongan 10 Bulan Maret 2016
Episode Sholat Subuh
Lingkaran itu sudah rapi.
“anak-anak, siapa yang tadi pagi sholat subuh?” sejumlah lengan kecil mengacung
tinggi, sambil berteriak, “Saya! Saya!” Aku lihat ada beberapa anak yang
terpaku tidak mengangkat tangannya. aku tanya satu persatu, “Apa yang membuatmu
tak sholat subuh Sayang?”
“Itu, Buk. Lupa, Buk”
“Oh.. Kalau ….. (nama siswa)?”
Dengan wajah seolah malu, “saya tadi abis bangun
langsung disuruh mandi trus makan trus berangkat”
“Oh….Nah, Kalau … (nama siswa yang lain)?”
“Saya bangunnya udah pagi, tapi Ibu saya masih tidur,
Bapak saya juga, mereka ndak pernah sholat, Buk, saya jadinya ndak sholat
juga”
Setelah mendengar jawaban
anak-anak yang tidak sholat subuh, aku memberikan mereka beberapa masukan dan
tips agar mereka bisa menjalankan sholat subuh. Terlebih dengan berjamaah.
Episode singkat ini terjadi di pagi hari sesaat sebelum kelas dibuka, sekitar
beberapa bulan yang lalu. Yang saya ingat mereka adalah anak-anak yang lucu dan
lugu, berusia sekitar 4-6 tahun, imut, cakep, cantik, dan manis. Saat itu aku
sengaja bertanya begitu agar perlahan tapi pasti memahami bahwa sholat itu
penting; bahwa sholat subuh itu disaksikan oleh para malaikat yang mulia.
Aku tahu mereka masih kecil dan
belum mendapat kewajiban menjalankannya. Aku hanya melatih mereka agar terbiasa
menjalankan sholat sejak dini. Mengajak dan mencontohkan sekaligus. Diantaranya
ada yang melakukannya, sebagian ada yang kadang melakukannya, kadang juga
tidak, sebagian bahkan sangat sulit untuk melakukannya. Kenapa ya?
Sampai-sampai aku ingin sekali berada di samping mereka saat subuh tiba.
Sekedar membantu membangunkan mereka untuk sholat subuh saja.
Kenyataannya aku tidak di samping mereka. Yang ada di
samping mereka adalah orang tua mereka. Merekalah yang akan ditanya oleh Allah
kelak, bukan aku. Betapa aku ingin tahu apakah pertanyaanku setiap pagi itu
memberikan makna pada keyakinannya?; “apakah kalian sudah sholat subuh tadi
pagi, Nak?”
Bukankah RizkiNya itu Begitu Luas?
Ketika mengetik dengan jari-jari
yang masih Allah izinkan ini, Bumi telah berusia 46 miliar tahun, alhamdulillaah ya,
itu bukan umur yang sedikit lho, kalau sekarang membelanjakan uang
segitu bisa dapet snack sampai memenuhi sekuruh ruang dalam rumah tuh J. Dimana keadaan sudah
berbeda jauh sekali kalau mau di bandingkan dengan masa-masa ‘keemasan’ yang
ada pada zaman orang-orang terkasih kita (orang tua) yang notabene lahir
disekitran ’70 an atau ‘90an, bahkan aku yang lahir di kisaran ’90an aja udah
ngerasain banget kok bedanya (kan kan kan jadi katahuan tuanya :D); dulu, dulu
sekali bumi tak sepadat ini, yang ramai dengan sepeda ontel di setiap ruas-ruas
jalanan yang tak memiliki klakson semenggema sekarang. hamaparan lahan hijau
nan wangi dahulu itu luas sekali, sejauh mata memandang begitu dimanjakan oleh
karyaNya nan agung. Dimana untuk berkomunikasipun harus kuat-kuat memendam rasa
sebab tersampaikannya kabar atau pesanpun harus begitu sabar lahir batin.
Berbedakah? Iya, tentu saja.
Aku
tak hendak membahas perbedaan yang ku sebutkan itu (dikupas di lain waktu aja
ya). “Dulu itu, orang Cuma modal mau aja udah bisa jadi PNS kok” begitu kata
salah seorang teman yang benar-benar membenci tiga huruf yang lahir dari
singkatan Pegawai Negeri Sipil itu, sekarang udah tau kan mau bahas apa? Iya,
si seragam yang berwarna keoklatan itu, yang sempat manjadi primadona di
masa-masanya, kata sempat yang aku sematkan rasanya cukup mewakili melihat
keadaan yang begitu berubah dengan saat ini, tapi ayolah, siapa yang tak tergiur
dengan iming-iming yang di hadirkan si seragam kecoklatan itu? Seperti akan
mendapatkan jaminan seumur hidup, ini itunya di tanggung Negara, bahkan yang di
tanggung tak hanya si pengguna serangam, namun juga istri, anak, atau
keluargnyapun akan kecipratan, tanpa perlu terlalu memeras keringat seember
besar sehari. Jikapun masih ada yang begitu bernafsu dengan tiga huruf
singkatan itu, bisa jadi merupakan keinginan dari orang-orang terdahulunya yang
lahir di tahun-tahun keemasan si tiga kata singkatan.
Lalu,
bagaimana dengan sekarang? Aku akui, si
tiga huruf singkatan itu belum menghilangkan pesonanya bagi yang berniat
merengkuhnya, namun, mari kita lihat sekarang, masa-masa dimana setiap orang
bisa mendapatkan rezeki yang telah dijanjikanNya dengan berlimpah ruah itu.
Dimana setiap orang bisa bekerja dan mendapatkan si merah, biru, hijau, atau
bahkan abu dengan begitu mudahnya, dengan duduk bersosmed ria pun bisa medapatkan
uang, dengan memegang sapu di kedua tanganpun akan mendapatan uang, bayangkan
jika tanpa sipemegang sapu sehari saja, maka alangkah kotornya bumi Allah ini, atau dengan jenis
pekerjaan-pekerjaan lain yang begitu mudah tertangkap kamera indah yang telah
Allah anugrahkan, iya bukan?
“Seperti
burung yang keluar dari sarangnya pada pagi hari dalam keadaan lapar lalu
pulang pada sore hari dalam keadaan kenyang, seperti itu janji Allah jika kau
yakin dengan ketetapan Allah,” Iya, benar, bahwa rizkiNya itu luas sekali.
Maka jangan
takut dengan apapun ‘label’ yang tersemat dalam pekerjaan kita hari ini, selama
cara memperolehnya adalah halal lagi baik, kenapa tidak? Masalah cukup atau
tidak, oh.. ayolah, bukankah “jika kau bersyukur maka Aku akan menambah
nikmatKu” begitu janjinya Allah dalam Alqur’an nur karim. bukan masalah berpenghasilan tetap, tapi bagaimana agar tetap penghasilan tetap.
Bukankah bisa
membuka mata dan bernafas hingga detik ini adalah sebuah nikmat yang luar
biasa?
“Fabiayyialaa
irobbikuma tukadzibaan…”
Sabtu, 07 November 2015
Kecocokan jiwa memang tak selalu ada rumusnya
ada dua sungai besar yang bertemu dan bermuara di laut yang satu;
itu kesamaan
ada panas dan dingin bertemu untuk mencapai kehangatan;
itu keseimbangan
ada hujan lebat berjumpa tanah subur, lalu menumbuhkan taman;
itu kegenapan
tapi satu hal tetap sama
mereka cocok karena bersama bertasbih memuji Allah
seperti segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi, ruku' pada keagungan-Nya
Salim A. Fillah
Langganan:
Postingan (Atom)




