Sabtu, 18 April 2020

Saya : ga capek Kak nyariin barang-barang Adek yang adek sendiri lupa dimana naruhnya?

Kakak : ya capek. Sampai Kakak rasanya pengen bikin etalase "ditemukan barang sebagai berikut..."

Heheheheheh

----

Satu hari seperti biasanya, saya lupa dimana taruh kunci rumah. Posisinya adalah kami di luar rumah, sehabis pergi, mau masuk ke dalam rumah lagi. 

Saya : aduh perasaan tadi ta taruh tas deh kuncinya..

Kakak : kebiasaannya kumat itu~

Saya : *korek-korek isi tas*

Masih saya : ngeluarin barang-barang yang ada di tas

Dan lagi-lagi, ya, ini Saya: hehehe akhirnya ketemu

Kakak : Tahu gak Dek, kalau kita ada di film zombie, kita udah mati. Kegigit zombie!

Heheheheheh...ya maap.

Ketenangan Hati

Selepas dinyatakan hamil lagi, suami meminta saya untuk lebih fokus kepada si Dedek. Saya diminta berhenti bekerja. Saya sih denial, ngakunya ikhlas dan baik-baik saja. Padahal mah takut juga nggak punya pegangan di tengah bulan kalau mau beli sesuatu yang peruntukannya untuk saya sendiri--yang biasanya saya beli pakai uang hasil kerja. Haha. Ngakunya enteng-enteng aja ngelepas, padahal saya berusaha cari 'income' lain selain jualan. 

Sampai kemarin saya ditegur sama Allah sewaktu datang ke sebuah kajian. Kehilangan harta adalah sesuatu yang paling ringan ujiannya, ada yang lebih berat dari itu yaitu kehilangan ketenangan  hati.

"Ketenangan hati itu datangnya dari Allah, mintanya ke Allah. Bukan minta pada materi. Apakah setelah punya banyak uang menjamin ketenangan hati? Kalian pikir orang kaya banyak uangnya pasti bahagia? Kalau kita sandarkan kebahagiaan itu pada harta, hati-hati syirik."

Jleb. Jleb buat saya yang kelimpungan ini. 

Mintanya ke Allah. Saya masih takut sama nggak punya uang. Padahal segala sesuatu sudah dijamin sama Allah. Saya masih takut aja...takut banyak hal, ternyata Allah sedang mencabut nikmat ketenangan hati itu dari saya. 

Sedih sih. Menerima kenyataan bahwa diri ini sungguh sudah salah meletakkan persepsi akan lebih tenang dan enak hidup ini kalau ada 'uangnya'. Siapa yang menjamin?

Haha terngiang kata-kata si Kakak kalau saya lagi suka ndableg : "kaya ndak punya Tuhan aja kamu itu!"

Hehehehe....


Dear aku, sadarlah :))))

Selasa, 14 April 2020

Takdir-takdir yang Tertunda

Tanpa terasa, sudah sebulan kita menjalani masa-masa #dirumahaja. Bagaimana kabar dirimu? Adakah yang sudah mulai bosan dan ingin melihat dunia luar lebih jauh dari sekedar berjalan-jalan di sekitar rumah? Bagaimana juga kabar hatimu? Adakah yang sudah mulai gusar, resah, juga gelisah karena sesuatu? Bagaimana pun kabar diri dan hatimu saat ini, semoga surat ini bisa tetap hadir tepat di hatimu. Sebab, sejak beberapa hari yang lalu, ada sesuatu yang ingin kuceritakan. Apakah itu?
Beberapa hari lalu, saya membaca secuplik tulisan yang ditulis oleh seorang penulis dalam Instastory yang diunggahnya. Dalam sebuah panel disana, beliau menuliskan,
“Ketidakpastian itu memang selalu jadi ketakutan manusia. Bukankah kita selama ini berusaha keras untuk mengontrol keadaan, membuat sesuatu bahkan orang lain berada dalam kendali kita. Kita membuat rencana-rencana yang teliti. Kita membuat strategi dan siasat. Semua itu nampak sia-sia. Kita kini bahkan tak mampu mengendalikan diri kita sendiri. Sebelum ini, kita tak mengenal tawakal. Sebelum ini, kita tak pernah mengenal pasrah. Sebelum ini, kita adalah orang yang penuh gairah untuk menjalani hari demi hari. Kini, kita takt ahu apa-apa.” – Kurniawan Gunadi
Kalimat demi kalimat yang ditulis disana membuat saya berpikir dan merenungi banyak hal, tak hanya yang berkenaan dengan diri sendiri, namun juga orang lain dan tentunya orang-orang di sekitar. Kalimat itu benar. Betapa tidak, saat ini kita memang seolah tidak memiliki gambaran tentang bagaimana hari-hari kita di depan akan bergulir. Tidak hanya itu, kita pun sedang dipaksa akrab dengan berbagai ketidakpastian. Rasanya, semua serba tanda tanya, entah apa dan bagaimana jawabannya. Ada kelulusan yang entah ditunda sampai kapan. Ada sidang tugas akhir yang entah bagaimana bisa dikejar. Ada khitbah yang mau tidak mau harus ditangguhkan. Ada pekerjaan yang hilang, yang entah kapan penggantinya akan datang. Ada pula ketetapan-ketetapan lain yang kita tunggu, namun tak pernah ada yang pasti tentang kapankah ia akan datang. Apakah kamu sedang merasakannya? Hal apa yang kini sedang kamu tunggu dan sudah mulai meresahkanmu?
Entah bagaimana, kondisi pandemi yang mendunia ini sedikit banyak menggoda kita untuk mulai menyalahkan Corona atas apa-apa yang terjadi di luar rencana kita, “Lulus ditunda nih, gara-gara Corona. Khitbah terancam diundur nih, gara-gara Corona. Naik gaji enggak jadi nih, gara-gara Corona. Aku resign nih, gara-gara Corona. Agenda hidup jadi berantakan nih, sebel banget, gara-gara Corona.” Begitulah, semua gara-gara Corona. Tapi, apakah memang benar bahwa semua penundaan, penangguhan, atau pembatalan itu terjadi gara-gara Corona?
Kalau kita mengedepankan emosi dalam berpikir mengenai segala ketetapan takdir atas diri kita saat ini, mudah sekali kiranya bagi kita untuk setuju bahwa semua yang tak sesuai dengan apa yang pernah kita doakan, harapkan, dan rencanakan ini memang gara-gara Corona. Namun, ketika kita menggeser sudut pandang dan menggunakan lensa iman sebagai landasan cara pandang kita atas semua ini, kita akan temukan bahwa sejatinya, dengan atau tanpa adanya Corona, segala ketetapan takdir-Nya atas diri kita sudah ditetapkan-Nya dengan sempurna sedemikian rupa, bahkan sebelum kita terlahir ke dunia. Dalam hadist At-Thirmidzi bahkan disebutkan bahwa berkenaan dengan hal-hal seperti ini, pena telah diangkat dan tintanya pun telah mengering.
Yup! Bukan Corona yang datang mengubah atau menunda kedatangan takdir. Namun, kedatangan Corona itu sendiri pun telah menjadi bagian dari ketetapan takdir. Tanggal sidang, kelulusan, menikah, naik gaji, menerima pekerjaan baru, dst, semua sudah Allah tetapkan. Maka, tidak produktif kiranya jika kita saat ini sibuk menyalahkan Corona atau bahkan menyangkal takdir. Sebaliknya, hal terbaik yang bisa kita lakukan saat ini adalah tetap menuggu dengan sabar dan tetap berupaya lagi, berdoa lagi, juga berbaik sangka lagi kepada Allah. Tenang, sebab Umar bin Khattab pernah berkata,
“Hatiku tenang karena mengetahui bahwa apa yang melewatkanku tidak akan pernah menjadi takdirku, dan apa yang ditakdirkan untukku tidak akan pernah melewatkanku.”
Tidak mudah memang. Sebab, bagaimana pun kita terbiasa untuk memiliki kehendak-kehendak diri. Tidak hanya itu, mungkin kita pun terbiasa untuk bersandar pada kehendak-kehendak itu hingga melupa bahwa Allah pun memiliki kehendak dan hanya kehendak-Nyalah yang menjadi sebaik-baik kehendak. Tidak apa-apa, barangkali memang inilah saatnya bagi kita untuk menundukkan hati dan jiwa untuk kemudian kembali berserah dan berbaik sangka kepada-Nya. Selama bersama-Nya, tak ada apapun yang akan terjadi selain dengannya kita beroleh kebaikan, bukan? Tetap semangat, ya! Jika suatu ketika kamu lelah, ingatlah bahwa tak ada setetes air mata pun yang akan disia-siakan-Nya. Semoga Allah melapangkan jiwa kita semua. Baarakallahu fiik.
“Jika kau tidak bisa berbaik sangka kepada Allah karena kebaikan sifat-sifat-Nya, berbaik sangkalah kepada-Nya atas kebaikan perlakuan-Nya terhadapmu. Bukankah Dia selalu memberimu yang baik-baik dan mengaruniaimu berbagai kenikmatan?” – Ibn Atha’illah, dalam Al-Hikam

Jumat, 13 Desember 2019

teruntuk hati


Dibanding jadi yang dieluh eluhkan. Harta berlimpah. Bukankah yang lebih kita idam idamkan adalah hidup yang dilimpahi berkah. Dan urusan urusan yang dipermudah.
Bukankah yang lebih diharap harapkan. Hati diberi ketenangan. Dijauhkan dari segala gelisah dan resah. Dari itu, agar tak tersakiti maka jangan menyakiti. Pilihlah diksi diksi bertutur yang menenteramkan hati.
Bukan harta yang menenteramkan. Bukan pujian pula bukan pengakuan. Tapi ridho Allah yang meliputi kehidupan kita yang bisa membuat hati tenang. Menyala semestinya hingga kita bisa berjalan dengan cahaya. Tak redup sebelum tiba ditujuan. Pula tak membakar hingga merusak setiap ikatan.
Tak mesti selalu harus punya, bagi hati yang senantiasa kaya. Tak cukup segala isi dunia bagi hati yang tak cukup Allah saja di sana :')


Rabu, 11 Desember 2019

“Ya Allah,jagalah cinta kami, jadikanlah pasangan hidup dan buah hati kami penyejuk mata dan penyejuk hati,tetapkanlah hati kami dalam keimanan,teguhkanlah kaki kami di jalan kebenaran dan perjuangan,ringankanlah jiwa kami untuk berkorban,maka mudahkanlah perjuangan dan pengorbanan itu dengan rezeki halal dan berkah dariMu”

aamiin...
Kisah Musa a.s berisi jutaan hikmah. Salah satu yang selalu bikin amaze adalah kisah perjalanan pertama Musa a.s ke Madyan. Do'anya singkat, sederhana, namun dalam penih pemaknaan atas ‘hamba’

“Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan (makanan) yang Engkau turunkan kepadaku.”

Di tengah payah dan lemah keadaannya, Allah datangkan anak Syu'aib, Allah berdayakan Musa a.s, Allah karuniakan anak Syu'aib sebagai pendamping hidup, dan Allah sempurnakan nikmatnya dengan risalah kenabian.

Dalam payahnya Musa a.s menunjukkan kualitasnya sebagai hamba. Bahwa ia tidak meminta apa yang ia inginkan, karena ia tahu bahwa Allah lebih tahu tentang apa yg ia butuhkan. Ia merendah, menyerahkan segala keperluan kepada Dzat yang mengatur segalanya.

Dari Musa a.s kita belajar, bahwa puncak penghambaan adalah percaya. Percaya bahwa kapasitas kita bukanlah utk menentukan apa yang baik menurut kita, tapi utk mempercayakan kebaikan seutuhnya kepada Yang Maha Baik. Bahwa menjadi hamba seutuhnya hanya akan menambah kebaikan seluruhnya.

Senin, 02 September 2019

Surga dunia

“Di dunia itu terdapat surga. Barangsiapa yang tidak memasukinya, maka dia tidak akan memperoleh surga akhirat.” Demikian ujar Ibnu Taimiyah rahimahullahu Ta’ala.


Dunia, di tanah yang kita pijak ini—suka dan duka jaraknya begitu dekat. Datang silih berganti seolah bergulir dari tegukan pertama, kedua, ketiga lalu disusul tegukan-tegukan berikutnya.


Maka berbahagialah mereka, yang mampu menemukan surga di dalam dunia yang kesenangannya hanya sekedipan mata. Mereka yang tidak hilang syukurnya meski musibah datang bertubi-tubi menimpa.


Jiwanya telah terlebih dahulu jatuh cinta kepada Allah, prasangkanya, lisannya…


“Surga dunia..” Terang Ibnul Qayyim rahimahullahu, “..adalah dengan engkau mencintai Allah, mengenal Allah, senantiasa mengingat Allah..”


“…merasa tenang dan thuma’ninah ketika bermunajat kepada-Nya. Menjadikan kecintaan hakiki hanya untuk-Nya, memiliki rasa takut namun dibarengi pengharapan seutuhnya kepada-Nya. Senantiasa bertawakkal kepada-Nya, dan hanya menyerahkan segala urusan kepada-Nya.” Demikianlah, beliau rahimahullahu Ta’ala menjelaskan.


Maka… tersebutlah surga dunia.


…sudahkah kita memasukinya? Sudahkah kita saling mengingatkan untuk meraihnya? Diriku, terutama. Pahamilah, bahwa kedipan matamu itu tak akan pernah lebih lama jika dibandingkan dengan terpejamnya matamu, nantinya.


Mari menua bersama, dan engkau selalu menjawab, “hanya sampai tua?”


Tidak! Tentu saja.


Bersamamu, adalah upayaku untuk menggapai Ridho tertinggi dari-Nya. Bersamamu, adalah karunia terindah dari-Nya.


Hingga pada akhirnya nanti.. waktu akan berlalu sedemikian cepat tak terasa, hingga masing-masing dari kita harus meninggalkan atau ditinggalkan.


Maka kemudian, ketika kita telah sampai di jannah-Nya, kita mendapatkan Allah menepati janjiNya. Bahwa surga, adalah tempat bertemunya kembali hamba-hamba yang saling mencintai karena-Nya.


Maa syaa Allah.. maka sungguh, betapa beruntungnya mereka yang benci dan cintanya terhadap sesuatu adalah semata-mata karena Allah♡


Jumat, 30 Agustus 2019

Di satu pagi yang cerah, setelah mengantar Pak Suami ke sekolah.
“Kak, Adek berangkat ya?”
“Iya, hati-hati di jalan.”
“nggih.. 😁”
“Jas hujannya ada di dalam jok ya, Dek.”
“Oke!”
“Itu bensinnya tinggal sedikit, nanti beli ya.”
“Oke!”
“Ntar kalau ada apa-apa bilang.”
“syiaaaaappp"
“Sudah tahu kan jalannya? Inget-inget, ikutin jalan aja, nanti ketemu gerbang belok kanan, terus belok kiri  sampai ketemu bundaran,  Kaya yang tadi Kakak tunjukin.”
“mmm…”
“Kalau nyasar nanti langsung telpon.”
“Oke!”
“Itu helmnya sudah dikunci kan?.”
“hehehe.. Aamaan
“pamit dulu Assalamu’alaikum!”

Ternyata, I Love You banyak sinonimnya. :') 

Ya Allah, jadikanlah kami manusia yang selalu takut akan neraka-Mu. Aku takut menjadi seperti manusia kebanyakan, yang nampak tak peduli tentang jadi apa setelah mati nanti.


Hal yang paling kusukai dari berdoa adalah, doa bisa melapangkan hatiku. Terkabul atau tidak, setidaknya aku lega Allah selalu ada mendengarku :)


Membangun visi misi keluarga itu berangkat dari memilih pasangan hidup.

Libatkan Allah terus, minta Allah untuk menuntun. Bersegera, tapi jangan tergesa. Pilihlah yang memiliki nilai dan prinsip yang tak berseberangan secara fundamental denganmu, apapun itu, yang menjadi peganganmu.
Sholeh/ah itu luas. Peranan yang mau diambil untuk berusaha menjadi alim atau takwa itu banyak. Yang wajib adalah wajib. Sisanya soal pemikiran, kedewasaan, karakter, keluarga besarnya, pekerjaan, dan lain-lain takarlah di takaran yang sekiranya bisa kita tolerir. Sesuai kemampuanmu menerima.
Bertanyalah saat proses, pelajari dirinya dari caranya memerlakukan keluarganya atau anak kecil, periksa hubungannya dengan teman dekatnya. Ikhtiar ini, bisa kita optimalkan.
Ini nasihat, buat teman-teman yang sedang berproses. Selanjutnya, sejak awal hingga akhir bertawakkallah kepada Allah..
Ingat, jangan dicari kesempurnaan itu. Tak bakal kamu temukan pun sampai habis daya kamu mencarinya.
Ingat-ingatlah, menikah ini ajang beribadah. Kalaupun kamu punya sedikit petunjuk tentang dia dari usahamu mencari, mengorek, sedang sudah istikharah, direstui, dan memiliki kemantapan hati, maka…selama kamu libatkan Allah dan restu kedua orangtuamu, Allah nanti yang akan menuntunmu dengan caraNya.
Berumahtangga itu tak mudah, tapi dengan kuasaNya, pasti kita sanggup melaluinya.

Minggu, 25 Agustus 2019

Bahagia

Ada sebagian orang—yang untuk—merasa bahagia, mereka harus pergi ke luar kota. Dan sebagian yang lain, bahagia, bagi mereka, “…sederhana.”
“Bahagia itu disini,” menepuk dadanya. “Jiwa yang mengenal Allah, jiwa yang menghamba dengan sepenuhnya kepada Allah.” Barangkali, demikianlah yang akan dikatakan orang-orang yang mampu merasakan bahagia dengan sederhana. Maa syaa Allah..
Untuk bahagia, kita kira sejauh apakah kaki harus melangkah? Sedangkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullahu Ta’ala pernah berkata ketika berada di dalam penjara, “Seandainya benteng ini dipenuhi dengan emas, tidak ada yang bisa menandingi kenikmatanku berada di sini.”
Jiwa-jiwa yang tetap merasa tenang, jiwa-jiwa yang tetap teguh dalam pendirian. Jiwa yang bersabar, jiwa yang ikhlas, jiwa yang jujur, jiwa yang setelah maksiatnya segera kembali dan bertaubat kepada Rabb-nya.
Merekalah, yang memiliki kebahagiaan yang sejati. Bahagia yang tidak harus dicari lagi, bahagia yang tidak akan meninggalkannya pergi. Bahagia yang tidak membutuhkan harta untuk dibeli.
Orang-orang seperti ini, dengan melihatnya saja akan menumbuhkan getaran di dalam hati. Seolah bahagianya terpancar, menular.. Maa syaa Allah, laa quwwata illa billah..
“Seandainya,..” Demikian ujar seorang salaf, “..seandainya para raja dan pangeran itu mengetahui kenikmatan yang ada di hati kami ini, tentu mereka akan menyiksa kami dengan pedang.”

Senin, 22 Juli 2019

“Jika Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang, mengapa Allah menciptakan Neraka?”

“Jika Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang, mengapa Allah menciptakan Neraka?”
Pertanyaan diatas adalah pertanyaan yang sering saya dapatkan dari orang yang belum mengenal dirinya, untuk apa ia diciptakan dan belum “mengenal” Siapa Penciptanya.
Jawabannya, Allah Ta'ala menciptakan neraka, bukan berarti Dia benci ataupun zhalim kepada hamba-Nya, justru itu sebagai salah satu tanda bukti Maha Adilnya dan tanda Allah Maha Penyayang.
Kenapa?
Karena manusia butuh diatur dan dijaga dari ketidakmampuannya dalam mengenal kebebasan. Orang-orang beriman tahu bahwa ada rahmat dan azab, dan seseorang hanya mendapatkan salah satu darinya (entah itu rahmat atau azab). Jadi, dia akan berusaha untuk menjauhkan dirinya dari azab Allah dan mendekatkan dirinya menuju rahmat dan kasih sayang-Nya, dengan berusaha menjauhi perbuatan-perbuatan buruk ataupun zhalim dan sesat.
Orang yang beriman mematuhi batasan-batasan Allah Azza Wa Jalla, menjauhi larangan-Nya, dan mencari ridha Allah dengan sebaik mungkin. Dia tahu bahwa hal ini akan menyelamatkan dirinya dari azab Allah di akhirat.
Sekarang saya ingin bertanya, adilkah Allah apabila Dia membiarkan manusia begitu saja, melakukan kemaksiatan, kejahatan kepada sesama dan apapun yang mereka mau tanpa adanya “balasan” berupa siksa neraka jika tidak bertaubat sebelum ajal menjemput?
Lalu semua masuk Surga, baik yang taat maupun yang tidak?
Allah Ta'ala dibanyak ayat selalu menyatakan bahwa sebaik-baik orang yang berdosa adalah bersegera bertaubat, agar ia mendapatkan ampunan dan rahmat-Nya. Tiada lain agar manusia hidup dengan “teratur”, karena manusia tentu tidaklah sama dengan binatang, yang hawa nafsu dan syahwatnya dibiarkan tanpa penjagaan dan tanpa aturan.
Tidak terbayang jika Allah Ta'ala tidak menciptakan neraka, manusia sebejat apapun bebas dari hukuman. Tuhan seperti itukah yang dirimu mau?
Hal ini juga ditegaskan-Nya dalam Al-Qur'an
وَمَا أَنَا بِظَلاَّمٍ لِلْعَبِيْدِ
“Dan Aku tiadalah akan melakukan kezhaliman kepada hamba-hamba-Ku.” (QS. Qaf :29)
Laa hawla wala quwwata Illa billah. Wallahu waliyyut taufiq.

Ujian Perasaan

Kita semakin tumbuh dari hal-hal yang membuat kita patah. Kita semakin bijaksana dari apa-apa yang membuat kita kecewa. Dan kita semakin kuat dari kejadian yang membuat kita lemah. Bersabarlah, kita diuji untuk menjadi lebih baik.
Setiap sedih dan kecewamu tidak meminta untuk dipahami saat ini. Terkadang ia hanya ingin diakui dan diterima keadaannya.
Bersabarlah, meski bebanmu sekarang terasa sangat berat. Jangan dulu menyerah meski kamu sudah tidak mengerti apa yang harus kamu lakukan.
Bertahanlah sejenak, meski menahan perasaan membuat dadamu terasa semakin sesak. Teruslah berjalan meski langkahmu sudah terasa sangat perih.
Kelak suatu hari nanti kamu mampu melihat jalan ceritamu dengan utuh dan lebih jernih. Bersama rasa syukurmu terhadap setiap rencanaNya menyelamatkanmu.

Jumat, 05 Juli 2019

Tiap-tiap dari kita memang punya bab rahasia yang jalan ceritanya hanya kita sendirilah yang tahu. Bab rahasia, yang juga tersimpan di ruang rahasia yang hanya kita sendiri yang tau letaknya. Selamat menyimpan lebih banyak rahasia, Aku.


Bandingkan Aset Djarum, Sampoerna dengan Gontor dan Muhammadiyah ?



Anda kagum dengan aset Djarum, Sampoerna, dll? Izinkan saya menyampaikan sesuatu.
64 tahun yang lalu, setelah Buya Hamka bekerjasama dengan Yayasan Al-Azhar Indonesia, kini telah memiliki 150 cabang masjid di Indonesia, belum lagi aset sekolah-sekolahnya: sekarang hampir di tiap provinsi ada Sekolah Al-Azhar. Siapa orang kaya di Indonesia, yang asetnya sebanyak dan semanfaat Al-Azhar?
90 tahun yang lalu setelah sang kiai menyerahkan seluruh tanahnya, dirinya, bahkan anaknya yang masih dalam kandungan, diwakafkan untuk agamanya, 90 tahun kemudian GONTOR punya 20 cabang dan 400 pondok alumni tersebar di seantero nusantara bahkan ada yang di luar negeri. Saya tidak tahu berapa ratus triliun asetnya. Bermula dari tiga orang bersaudara. Sebutkan kepada saya, orang Indonesia dari penjajahan hingga sekarang, yang asetnya sebanyak beliau? Baik secara nilai aset maupun secara manfaat.
Muhammadiyah? Jangan ditanya. 104 tahun yang lalu. KH, Ahmad Dahlan pernah keluar rumah, mengumumkan kepada semua orang, siapa saja yang mau membeli seluruh perabotan yang ada di dalam rumahnya, karena beliau kekurangan dana untuk menggaji guru-guru sekolah Muhammadiyah.
Kini, 104 tahun kemudian Muhammadiyah telah memiliki 10.000 lebih sekolah mulai dari PAUD hingga SMU, 170 lebih universitas, 104 rumah sakit, yang pemerintah Indonesia baru punya 48 rumah sakit vertikal, 300 klinik, 10 Fakultas Kedokteran, 700 dokter dikeluarkan setiap tahunnya. Dan hampir 1000 Triliun nilai aset Muhammadiyah yang baru bisa terhitung dalam bentuk barang dan masih banyak lagi yang tidak terhitung. Maaf, saya belum update data terbaru amal usaha yang dimiliki ormas ini
NU? Ia sangat mengakar dan berbasis pada pesantren. Jangan tanya jumlah, karena yang pasti sudah tidak bisa dihitung lagi, meskipun data di Kemenag ada sekitar 27 ribu pesantren. Tapi, saya yakin lebih dari jumlah itu. Hampir semuanya tumbuh kembang dari wakaf-wakaf umat, mulai dari wakaf tanah 1 m, hingga ratusan hektar.
NU pun sejak satu dasawarsa terakhir ini giat membangun sekolah-sekolah modern, rumah sakit dan perguruan tinggi. Saya yakin dalam 20 tahun mendatang akan tumbuh ratusan perguruan tinggi dan rumah sakit NU di tanah air. Belum lagi jika kita bicara masjid-masjid yang dikelola ormas Islam yang didirikan oleh Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asyari ini, berapa nilai asetnya? Yang pasti akan fantastis.
Ada satu contoh lagi yang perlu kusebutkan di sini: Pesantren Darunnajah Jakarta, salah satu pondok alumni Gontor yang moncer. Baru-baru ini, dalam rangka miladnya yang ke-54 ia kembali mewakafkan tanah seluas 602 ha atau senilai Rp. 1,6 Triliun. Sebutkan padaku, siapa yang berani melepas asetnya sebesar 1,6 T dan diwakafkan pada umat? Gila? Tidak! Aku bahkan menyebutkan sangat waras! Saat banyak orang kaya menghamburkan triliunan rupiah untuk judi dan politik, sebuah pesantren berusia 54 tahun kembali mewakafkan angka yang fantastis.
Tahun 2015, aset tanah wakaf Darunnajah mencapai 677,5 hektar yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia seperti di Riau, Kalimantan, Bandung, Jakarta, Bogor, Banten, Lampung, Bengkulu, dan lain-lain. Seperti induknya, Gontor yang tanah wakafnya telah mencapai ribuan hektar, dan juga mengelola unit usaha yang beragam.
Woouw, pesantren seperti perusahaan ya. Asetnya fantastis. Bedanya, pesantren berasal dari wakaf, perusahaan dari modal. Kalau begitu, berarti umat Islam ini umat yang besar dan kaya dong? Betul sekali! Yang luar biasa dengan aset yang fantastis itu, kiai pendiri, pengasuh dan keluarganya tidak memiliki satu sen pun, karena telah diwakafkan. Ada garis tegas pemisahan harta pribadi dengan harta pondok.
Maka, jangan under-estimate, bahwa pesantren tidak bisa apa-apa. Itu penilaian orang yang tidak paham, atau memang tidak mau paham.
Tazakka, 6 tahun yang lalu hanyalah hamparan tanah kosong yang tak berpenghuni. Dulu, ia adalah sebuah kebun cengkeh milik kakekku, hanya 1,6 ha luasnya yang setelah wafatnya pada 1988 nyaris tak terurus dengan baik. Tahun 2009, aku tekadkan untuk mengubahnya menjadi “kebun manusia”; bukan lagi cengkeh yang akan dipetik, tapi manusia-manusia masa depan yang akan dipanen, 10, 20, atau 30 tahun yang akan datang, bahkan, ya Rabb, mungkin satu abad, atau 10 abad seperti Universitas Al-Azhar di Kairo itu, tempatku dan adik-adikku nyantri.
Kini, wakaf Tazakka terus berkembang: tanah telah menjadi hampir 10 ha, masjid, gedung-gedung asrama santri, ruang-ruang kelas, aula pertemuan, dapur umum santri, kamar mandi, lapangan olah raga, perpustakaan, dan lain sebagainya. Ya Rabb, bisakah seperti Al-Azhar di Kairo, atau Gontor di Ponorogo? Ya Rabb. Entah, apakah aku masih hidup menyaksikannya ataukah aku telah tenang di alam kubur. Ya Rabb.
Buya Hamka seandainya masih hidup, KH. Ahmad Dahlan, KH. Hasyim Asyari dan juga Kiai Ahmad Sahal, Kiai Fannanie dan Kiai Imam Zarkasyi, mungkin tidak pusing dengan tax amnesty, karena mereka punya rekening gendut di akhirat dan di dunia, biasa-biasa saja. Sementara yang punya rekening gendut di dunia, pusing di akhiratnya, pusing pula di dunianya.
Seperti yang saya ketahui ada sebuah Hadis Nabi yang intinya: “Ada malaikat Allah yang siap mendoakan orang-orang yang ikhlas di jalan Allah yang tak terhitung jumlahnya.”
Itulah jalan kemuliaan para ulama kita terdahulu. Mereka tidak saja mewariskan nilai-nilai kehidupan, tetapi juga mewariskan peradaban. Lalu, pertanyaannya, apa yang sedang dan akan wariskan kepada generasi yang akan datang?
Maka, para ulama kita itu abadi hingga kini. Setidaknya, nama, foto dan silsilahnya masih segar di ingatan seluruh umat dan bangsa ini. Dengan begitu, mereka selalu didoakan. Duh, nikmatnya mereka, tiap saat kuburnya basah dan _jembar_ (lapang) karena kiriman doa-doa umatnya yang terus-menerus tiada henti. Bisakah kita kelak seperti mereka? Ya Rabb!
Itulah jalan wakaf, membentang ke depan tak berujung. Wakaf itu seperti –meminjam istilah Taufik Ismail– “Sajadah Panjang”, tempat kita menghamparkan diri berinvestasi untuk akhirat yang abadi. Harta yang kita wakafkan tidak hilang, tapi tersimpan dalam rekening akhirat. Ibarat sebuah transaksi di bank, para malaikat itulah yang bertugas sebagai teller-tellernya.
(Ust. Ihsan Zainuddin Lc MS.i).

Rabu, 03 Juli 2019

Rezeki dan Ujian Keimanan


“saat orang seusia kita udah kerja, bisa punya duit sendiri, ngasih sebagiannya buat keluarga, kita masih gini gini aja. Masih sekolah, ngurusin IPK, ujian ga kelar-kelar, jodoh yang belum datang.” ujar seorang sahabat baikku sore ini, selepas kami berbuka seusai mengejar deadline puasa Syawwal yang jatuh tempo hari ini.
Aku tertawa pelan, “ujian keimanan ini namanya Bos. Bukannya belum kerja aja ALLAH masih terus kasih kita rezeki? Bisa makan ini itu, bisa belajar.” dan kalimatku pun berhenti disini.
Malam ini aku merenung, sebelum jatuh dalam tidur lelap. Betapa memang Rezeki itu Kuasa ALLAH. Bahkan besok lusa jikapun sudah bekerja dan dari kerja itu kita mendapat rezeki berupa gaji, rasa rasanya terlalu sombong bila kita mengatakan bahwa rezeki itu bersebab kerja keras kita.
Maka persoalan rezeki, selayaknya ujian keimanan bagi diri saya sendiri. ALLAH Sang Maha Pemberi, telah memberikan begitu banyak nikmat-Nya. Dan semoga semua rezeki yang ALLAH berikan menjadi sebab pintu kebaikan demi kebaikan terbuka untuk kita lakukan menjadi amal sholeh. Aamiin…
Jangan risau, soal rezeki, ALLAH yang sudah jamin.
Semoga risaunya kita, menjadi risau tentang amal apa yang ALLAH ingin kita lakukan.
Semoga risaunya kita, adalah tentang kebaikan apa yang ingin kita haturkan yang terbaik untuk ALLAH atas segala nikmat yang telah kita terima.
Semoga risaunya kita, adalah menjadi sebaik baik hamba di mata ALLAH…aamiin…