Sabtu, 31 Desember 2016

Tidak ada yang perlu disesali dari kian banyak kisah yang terurai, sebab semua pasti ada hikmahnya, ada tujuannya, ada maksudnya. Sebab yakinku, Allah itu baik sekali, teramat baik.. ❤❤

Terimakasih untuk nano-nanonya tahun 2016.. 😊
Targetnya? 
Semoga tahun depan udah jadi pendampingnya seseorang *eh?? 😁😁

Dan malam ini, Kita tutup cerita dan segala serba-serbinya yah,. 🔨📆❤❤

Terimakasih untuk kesekian kalinya..   

Semoga Allah selalu menjadi yang pertama..

Rumah,  31 Desember 2016

Sabtu, 24 Desember 2016

12:25

Dari sekian banyak yang datang dan pergi dalam hidup, kemudian menetap, kenapa harus kamu?

Pertanyaan yang sempat terlintas untuk kemudian menemukan jawaban..

Adalah perasaan yang entah bagaimana, bersama kamu, aku bisa tertawa selepas-lepasnya,.

Adalah perasaan yang entah bagaimana, bersama kamu, aku bisa bercerita dari ini-itu-nya hidup tanpa harus khawatir akan dihakimi atau dikhianati..

Adalah perasaan yang entah bagaimana, bersama kamu, aku bisa ngelap air mata di jilbab panjang kamu, tanpa harus jaim-jaiman ala ala..

Aneh nggak sih...?

Bagiku aneh,. Rasa aneh yang dimulai saat tau ternyata tanpa janjian mau pake baju warna apa, eeh pas ketemu saling ketawa, saling heran, "kok warna jilbabnya sama??! " atau "kok warna bajunya sama??!" "hayoooo ngintipin saya yaa??" dan pertanyaan itu lahir bukan dari satu dua kejadian, tapi SERING...

Anehnya lagi, saat kamu atau aku mulai bercerita kemudian ditimpalin dengan kata "saya juga ngerasain hal yang SAMA" , kemudian sama-sama saling menguatkan, sama-sama saling nyemangatin atau saat kita sama-sama menyatakan dengan sadar bahwa kita mulai berkhianat pada warna biru kemudian memilih warna yang dulunya kita bully habis-habisan, misalnya? *Sehati sekaliii ❤❤*

Dan lebih aneh, saat buka sms atau WA yang pernah sampai seratus pesan lebih, pas dibuka pesannya dari kamu atau aku yang isinya ternyata abal-abal, bukan sekali dua kali, tapi sering. Dan hasilnya kita jadi puasa smsan selama dua hari karna pesan nggak bisa terkirim ke siapapun padahal pulsa masih banyak, saat itu aku yakin kalau operatornya bisa jadi empet sama kita yang ababil banget.. 😂😂

Bisa sampai segitunya, Kan aneh ya...

Tentang Perasaan dan keanehan yang melahirkan rasa syukur sebab kita hanya akan melakukan hal-hal itu tentu bukan pada sembarang orang.

Hingga menemukan kenyataan bahwa kita akan benar-benar menjadi diri kita saat kita telah benar-benar menemukan tempat yang membuat kita merasa begitu nyaman, dan tempat itu mampu menampung dan melengkapi kita dengan ke-apa-ada-an-nya kita.

Terimakasih untuk kesekian kalinya,  terimakasih buat sabarnya kamu ngadepin akunya yang kayak gini. Untuk setiap "ruang terbuka hijau" yang selalu kamu sediakan saat aku ingin ini itu banyaaak sekali (jadi nyanyi, ya?😁) ...

Dan hari ini? Alhamdulillah Allah masih hadiahkan kamu buat aku, Allah lebihkan kesempatan untuk pundi-pundi keberkahan yang masih diizinkan...
Selamat ulang tahun ayaang, semoga umurnya berkah, makin baik hubungannya dengan Allah, makin semangat buat tebar kebermanfaatan dan Allah mudahkan jalan menuju nikah... 😁❤❤ *aamiin Allohumma aamiin*

Untuk Siti Zahra alias Zahra ar-rahma alias kesayangan Zahra,.

Di Tempat (hatiku ❤)


Rumah, 25 Desember 2016

Jumat, 23 Desember 2016

Ketika seseorang pergi dan meni ggalkan kita, semua jelas tidak lagi sama. Ada hal-hal manis yang dibawa serta, menyisakan kenangan yang tak akan hilang termakan waktu yang menyisakan perasaan rindu yang tak bisa dibagi dengan siapapun, cukup dirasakan sendiri.

Kepada setiap hal yang begitu ampuh menjadi alarm pengingat, membuat setiap kenangan seperti terjadi kembali hingga begitu manis untuk di ceritakan lagi. Pun hingga hari ini, menggenap dua tahun setelah kepergian seorang yang do'anya amat dimakbulkan Allah, seorang bidadari yang surga berada di telapak kakinya.
Brusaha mencari hikmah dari semua ini. Keyakinanku bahwa tidak satupun terjadi tanpa maksud kebaikan dari_Nya..

Setelah dua tahun. Ma, iin boleh minta peluk?  Peluk dari jauh juga nggak apa-apa, iin rindu...

Rumah.
Menjelang 24 Desember 2016

Selasa, 20 Desember 2016

Tulisan: Laki-laki Aneh

Aira : Yu!  Aku menemukan spesies laki-laki aneh!

Wahyu : Macam mana?

Aira : Dia bilang ke orang-orang kalau dia ingin mendekati seseorang,  tetapi nyatanya dia tidak berusaha melakukan pendekatan apa-apa

Wahyu : Kamu tau?  Laki-laki juga ada yang tipikal apa-apa harus selesai dipikir sebelum benar-benar dilakukan.

Aira : Maksudnya?

Wahyu : Bisa jadi,  laki-laki itu ingin langsung serius.  Dan, perempuan yang ingin dia dekati juga bukan tipikal yang bisa sembarangan di dekati.  Perlu langkah hati-hati,  agar tidak perlu lagi menambah luka hati

Kamis, 15 Desember 2016

Tulisan : Terima


Kurasa, kita lebih membutuhkan penerimaan daripada pengakuan. Kita lebih membutuhkan orang yang bisa menerima kita, bagaimanapun kekurangan kita saat ini juga hari-hari yang telah terlewati. Bukan mencari orang yang bisa melengkapi setiap sisi kekurangan itu, melainkan orang yang bisa menerimanya dengan hati yang terbuka dan senyum yang mengisyaratkan kepada kita; jangan khawatir.
Kita butuh orang yang bisa menerima segala hal yang selama ini kita khawatirkan, termasuk kekhawatiran kita bahwa kehadiran kita tidak bisa mengutuhkan kekurangan orang lain.
Penerimaan adalah tentang kelapangan hati. Bahwa sisi manusiawi seorang manusia akan selalu ada, akan selalu saja ada hal-hal yang tidak kita sukai darinya meski hanya satu atau dua. Karena setiap kita kelak hanya akan bertanggungjawab atas apa yang kita lakukan, kemuliaan kita juga tidak pernah tergantung pada orang lain.
Memiliki hati yang bisa menerima adalah sebuah anugerah. Karena dengan demikian, hidup kita akan menjadi lebih mudah. Kita menjadi lebih berempati atas kekurangan orang lain, tidak juga menjadi hakim atas dirinya.
Kalau kita bisa menerima seseorang apa adanya, itu akan membantunya bisa menerima dirinya sendiri. Memunculkan rasa percaya dan keyakinan, juga kekuatan yang selama ini tersembunyi dalam dirinya akibat kekhawatirannya pada pertanyaan tentang adakah orang yang bersedia menerima dirinya, kalau dia menunjukkan dirinya yang sesungguhnya?
Dan kalau kita bisa dan bersedia, jadilah jawaban dari pertanyaannya itu.


Mataram, Januari 2017

Surga yang Dekat


Ada banyak cerita yang aku temui dalam beberapa hari terakhir. Hasil dari perenungan sepanjang jalan, bertemu dan mengamati orang, berdiskusi dan dari bacaan yang terkumpul. Tulisan ini sempat tertahan beberapa hari demi menunggu beberapa pemahamannya menjadi utuh, menjadi sebuah kesatuan makna yang bisa aku tarik pembelajaran terbaiknya.
Beberapa waktu belakang ini, aku belajar kembali tentang pemaknaan manusia terhadap surga. Di saat aku menyaksikan event-event kekinian yang menjanjikan “surga” sebagai propaganda demi mendapatkan banyak peserta acara. Aku berusaha memaknai kembali, bagaimanakah surga yang menjadi tujuan dari umat manusia ini.
Aku berusaha mendalami dengan perjalanan, menemui sebanyak mungkin orang dan melihat sorot matanya. Berusaha menyelami kehidupan dengan semua perspektif yang disediakan, dengan semua sudut pandang yang memungkinkan untuk aku pakai. Sampai-sampai aku sendiri menangisi pemikiranku selama ini, betapa piciknya pikiran ini dengan segala isinya. Kalau ada cara bagaimana mereset sebuah pikiran, ingin sekali aku menghapus isi kepala ini, aku tidak suka isinya. Dengan bagaimana selama ini pikiran begitu mudah melakukan penghakiman.
Diperjalanan aku menemukan bahwa surga dimaknai berbeda dari satu orang ke orang yang lain, makna yang berbeda membuat setiap orang juga melakukan cara-cara yang berbeda untuk meraih surga itu.
Saat di kota, di komunitas masyarakat urban. Aku gembira menemukan semangat gelombang hijrah (dalam agama yang aku imani). Begitu banyak orang berbondong-bondong melakukan perubahan baik. Surga yang kabarnya tidak akan tercium oleh perempuan yang berpakaian tapi telanjang, membuat gelombang hijrah yang luar biasa. Surga itu seperti bisa diraih dengan jalan tersebut.
Dan di saat yang sama, hanya beberapa ratus meter dari pusat keriuhan acara-acara berlabel hijrah. Surga itu sesederhana seorang bapak yang mendorong gerobak sampahnya, pulang menjelang maghrib dengan membawa seplastik beras hasil mencari rezeki hari ini. Itulah jihadnya. Tidak sempat hadir dipikirannya tentang bagaimana mengubah penampilannya agar sesuai dengan konsep surga yang dimaknai oleh teman-temanku yang lain, yang rela mengeluarkan lebih banyak hartanya untuk membeli pakaian dengan segenap propaganda kehijrahannya.
Ada konstruksi pikiran yang berbeda, ada pemaknaan yang berbeda. Perjalanan ini membuat aku percaya satu hal bahwa Allah itu Maha dalam segala ke-MAHA-annya. Aku percaya bahwa setiap manusia itu akan mencapai surganya dengan ridho Allah. Dan surga itu tidak akan pernah bisa dimonopoli oleh segilintir orang dan golongan, tidak juga hanya bisa diraih dengan jalan-jalan yang serupa seperti yang tengah tren saat ini..


Setiap orang akan dimudahkan dalam beribadah, juga disediakan ladang ibadahnya sendiri. Ladang-ladang amal yang mungkin tidak akan pernah bisa dipahami oleh orang lain. Dan aku hanya bisa menangis saat aku berusaha membeli sebuah baju muslim baru dengan harga ratusan ribu, sementara di perjalanan pulang aku menyaksikan sepasang manusia, bekerja berdua mencari rezekinya. Saat kami sama-sama berhenti di sebuah masjid karena maghrib sudah menjelang. Ibu dengan jilbab seadanya, dengan baju lengan pendeknya, dan celana panjang yang lusuh. Dan suaminya yang mendorong gerobak berisi tumpukan kardus. Pikiranku ternyata benar-benar picik, aku mengira surga itu hanya bisa diisi dengan orang-orang pakaian syari terkini. Harus menghafal semua isi kitab suci, atau harus mengikuti semua kajian. Maka, aku harus benar-benar bersyukur karena diri ini dimudahkan dalam beribadah, tidak harus mengalami kehidupan yang sulit dalam hal rezeki (materi). Karena ada orang-orang yang tidak memiliki ruang dan rezeki untuk menikmati ibadah-ibadah itu.
Setiap orang sedang berjuang dalam hidup ini, berjuang yang terbaik. Untuk meraih surga-Nya. Sebuah tempat terbaik untuk pulang nanti, sesudah mati.
 Dan ternyata surga itu begitu dekat.

Tulisan : Tentang Takdir


Setiap hari kita dihadapkan pada kondisi dimana kita harus selalu mengambil keputusan untuk hidup kita sendiri. Dimulai dari bangun tidur, kita harus memutuskan apakah akan langsung bangun, atau tidur lagi. Apakah kita memutuskan untuk membaca doa bangun tidur atau mengecek handphone kita ada notifikasi atau tidak.
Setiap detik adalah pengambilan keputusan. Kadang, aku berpikir bahwa takdir sebenarnya adalah keputusan yang kita pilih sendiri. Apakah kita akan menjadi orang yang berguna dan berdaya atau tidak, itu adalah takdir yang kita pilih. Apakah kita akan berbuat baik atau jahat, itupun sebuah pilihan dan menjadi takdir yang bisa kita pilih.
Hanya saja, banyak hati dan pikiran manusia yang terlanjut mati oleh rutinitas. Menganggap bahwa apa yang terjadi setiap detiknya adalah hal yang wajar, biasa saja, dan sudah berjalan sebagaimana mestinya. Setiap hari melakukan hal yang sama, selalu serupa. Mengulang-ulangnya tanpa sedikitpun berusaha untuk mengubahnya menjadi lebih baik, lebih efisien, atau lebih bermanfaat.
Kita menganggap apa-apa yang sewajarnya, ya disikapi sewajarnya. Lantas ketika kita berhadapan pada kondisi yang tidak sesuai, kondisi yang tiba-tiba mengacaukan rutinitas kita, kondisi yang membuat apa yang tadinya biasa kita lakukan menjadi tidak bisa. Kita kalang kabut.
Biasa bangun jam 8 pagi, dipaksa bangun jam 3 pagi. Biasa tidak pernah sarapan, dipaksa sarapan. Takdir, seringkali bertindak sesederhana itu. Hanya saja, kita tidak pernah siap. Dalam kondisi ekstrem, takdir bisa mengubah rencana hidup kita secara total. Bisa membelokkan arah hidup kita secara dratis.
Di saat itulah, kita mungkin baru merasakan bahwa hidup ini tidak mengalir begitu saja.