"Sesuatu yang berharga nggak dicapai dengan cara yang mudah. Perlu waktu, perlu perjuangan. Nangis aja, nangis sampai habis. Asal langkah nggak boleh sampai pada kata menyerah"
-Semangat berproses,! Istirahat kalau lelah, habis itu lanjut lagi. Sampai titik darah penghabisan, ya... 😊
*Hujan pertama Bulan September di langit Mataram*
Minggu, 04 September 2016
Jumat, 02 September 2016
"Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya." _Qs. Ali Imran : 159_
| jiwa dan hati yang tenang adalah hal yang penting menjadi. modal utama dalam menjalani perubahan kehidupan. Meski secara fisik tubuh kita sehat, jika hati dan fikiran masih berfokus pada hal yang membuat keresahan dan kekecewaan. Tentu akan sulit tercapai...
Jika sudah membuat keputusan, mintalah kepada Alloh, untuk meneguhkan hati, bersabar dan kuat dalam ikhtiar, sebab Ia sangat mudah membolak-balikkan hati... :) |
Malam di langit Mataram
| jiwa dan hati yang tenang adalah hal yang penting menjadi. modal utama dalam menjalani perubahan kehidupan. Meski secara fisik tubuh kita sehat, jika hati dan fikiran masih berfokus pada hal yang membuat keresahan dan kekecewaan. Tentu akan sulit tercapai...
Jika sudah membuat keputusan, mintalah kepada Alloh, untuk meneguhkan hati, bersabar dan kuat dalam ikhtiar, sebab Ia sangat mudah membolak-balikkan hati... :) |
Malam di langit Mataram
Minggu, 28 Agustus 2016
Benang Layang-layang
Layang-layang mampu terbang tinggi
jika didukung oleh benang yang berkualitas baik. Jika tidak, bisa putus
layang-layang terbawa angin entah kemana.
layang-layang membutuhkan benag agar ia dapat terbang. Tanpa benang, ia
hanya akan tersentak ke atas tanah dan menjadi sampah.
Benang berkualitas tentu saja
harganya lebih mahal dari benang biasa. Tidak kalah meski diadu dengan benang
yang lain memutuskannya. Layang-layang dan benang adalah sepasang jodoh yang
dari sana telah ditakdirkan berpasangan.
Namun, ada juga layang-layang yang hanya mampu terbang rendah, benangnya
tak cukup bagus untuk mehanannya terbang lebih tinggi. Ada pula layang-layang yang kemudian putus. Benangnya tidak mampu
menahan layang-layang itu untuk tetap
teriikat, ia kalah oleh kuatnya angin.
Ada juga yang bermain adu layangan.
Saling bergesekan benang dan lagi-lagi sala satunya putus, bercerailah antara
benang dan layang-layang. Layang-layang yang kalah tak akan lagi berharga,
benang yang kalah tak akkan lagi dipakai. Disimpan, menjadi usang atau dibuang.
Namun, ada pula layang-layang yang
mampu terbang tinggi setinggi-tingginya dan benang-benang mampu menjaganya
terbang dengan tenang. Begitu gagahnya layang-layang dipuji akan ketinggiannya,
tapi siapa yang lupa, aku atau kamu. Layang-layang dapat setinggi itu tentu
dijalin oleh benang yang sangat bagus. Aku penasaran, benang seperti apakah
gerangan yang digunakan untuk laying-layang?
Ibu menghentikan ceritanya.
“Kau tahu putriku sayang, laki-laki
adalah layang-layang dan perempuan adalah benang. Tanpa perempuan, laki-laki
tak akan menjadi apa-apa. Dibalik ketinggian atau kesuksesan laki—laki, ada
kita. Putriku, jadilah benang yang berkualitas terbaik. Buatlah layang-layangmu
kelak terbang setinggi-tingginya, karena setinggi apapun dia terbang, dia
selalu terikat olehmu dan akan bergantung denganmu. Jagalah dia agar dia tidak
putus dan hilang arah. Ingatlah bahwa layang-layang selalu ingin terbang tinggi.”
Ibu tersenyum, aku mengangguk. Aku
berjanji akan menjadi sebaik-baiknya benang untuk layang-layangku.
Minggu, 17 Juli 2016
Bersabarlah Sedikit Lagi
Hari-hari kemarin (ramadhan) adalah tentang melepaskan. Melepaskan ego, melepaskan ambisi, melepaskan kekhawatiran, juga melepaskan kesedihan. Untuk bisa merasakan bagaimana lapangnya hati sendiri. Merasakan betapa kesabaran itu benar-benar manis buahnya.Betapa mengosongkan hati dari segala hal itu memang perlu. Kemudian menyiapkannya untuk diisi kembali dengan hal-hal baru.Begitu banyak orang yang kehilangan sabar, kemudian kehilangan lebih banyak lagi. Orang yang dicintainya, pekerjaan yang ditunggu-tunggu, kesempatan yang hanya datang sekali, semuanya ikut hilang beserta hilangnya sabar.Bukankah kebaikan-kebaikan itu hidup karena kesabaran? Bagaimana mungkin kebaikan bisa bertahan lama bila kesabaran itu hilang di tengah masa perjuangan? Kesabaran menyempurnakan kebaikan itu, sebab kesabaran adalah nafasnya.Betapa banyak niat baik berhenti ditengah jalan karena hilangnya sabar. Betapa banyak orang yang sudah lelah menunggu kemudian menjadi kehilangan karena hilangnya sabar. Betapa banyak penyesalan yang lahir karena ketidaksabaran.Waktu dan kesabaran adalah sepasang ujian. Kesabaran itu pasti memerlukan waktu. Dan aku memahami bahwa kesabaran itulah yang membuatku bisa merasakan bahwa Allah benar-benar menyertai orang-orang yang bersabar.Bersabarlah, sedikit lagi. Atau kita akan kehilangan.Iin WahyuningsiRumah, 6 Januari 2019
Senin, 27 Juni 2016
Kalau kita berdoa, jangan lupa minta
pertolongan Allah untuk menjaga diri kita. Karena sampai hari ini, tanpa
pertolongan Allah, kita akan kewalahan menjaga diri.
Menjaga hati, diri, dan segenap pikiran dari hal hal yang zaman sekarang terlihat biasa, padahal Allah tidak suka.
Karena kalau hari ini kita adalah orang orang yang begitu rapih menjaga pertahanan diri, itu bukan karena kita hebat, bukan karena ilmu kita tinggi dan tau banyak, bukan juga karena lingkungan kita shalih luar biasa.
Itu semua Allah kan yang ngasih kemudahan. DimudahkanNya hati kita merasa tentram dengan hal hal yang Dia suka, dimudahkanNya diri kita untuk menutup setiap jengkal tubuh kita dengan rapih, dimudahkanNya kita mengontrol pikiran dari hal hal yang buruk. Semua dimudahkanNya. Maha Baik kan?
Huhu..
#kemudianTerharu
Semua karena pertolongan Allah. Semua dari Allah. Tanpa bantuan Allah, kita entah seperti apa.
Jangan pernah pandang remeh orang orang yang sampai hari ini masih kesulitan menutup apa apa yang perlu ditutup. Mereka mungkin lebih banyak berdoa untuk orangtua sehingga lupa berdoa untuk diri mereka sendiri. Atau mungkin mereka telah berdoa minta Allah jaga, tapi hidayah itu tidak mereka jemput, dari buku buku, dari alquran, dari ceramah dan nasehat para ulama atau dari kajian yang sering lupa mereka hadiri.
Jadi bersyukurlah atas penjagaan yang Allah berikan. Nikmat seperti ini sangat susah didapat. Nikmat begini lebih mahal dari drone, mirrorless, graphic tablet, dan bahkan dari dunia sama isi isinya. Jemput terus hidayah itu dari kesempatan kesempatan yang Allah tebarkan untuk kita setiap hari.
Jaga diri baik baik, dan istiqomahlah. You have come this far, dont give up now. Selalu ada hadiah dari Allah bagi orang yang menjaga.
Selamat berdoa dan menjaga, untuk kita💪⚡
#edisiHijrah
#ehTernyataMasihJalanDitempat
#mariPerbaikiUlangNiatKita
#bukanShafAjaYangPerluLurus
#tapiNiatJugaWajibLurus
mataram, potongan keduapuluhtiga Ramadhan
Menjaga hati, diri, dan segenap pikiran dari hal hal yang zaman sekarang terlihat biasa, padahal Allah tidak suka.
Karena kalau hari ini kita adalah orang orang yang begitu rapih menjaga pertahanan diri, itu bukan karena kita hebat, bukan karena ilmu kita tinggi dan tau banyak, bukan juga karena lingkungan kita shalih luar biasa.
Itu semua Allah kan yang ngasih kemudahan. DimudahkanNya hati kita merasa tentram dengan hal hal yang Dia suka, dimudahkanNya diri kita untuk menutup setiap jengkal tubuh kita dengan rapih, dimudahkanNya kita mengontrol pikiran dari hal hal yang buruk. Semua dimudahkanNya. Maha Baik kan?
Huhu..
#kemudianTerharu
Semua karena pertolongan Allah. Semua dari Allah. Tanpa bantuan Allah, kita entah seperti apa.
Jangan pernah pandang remeh orang orang yang sampai hari ini masih kesulitan menutup apa apa yang perlu ditutup. Mereka mungkin lebih banyak berdoa untuk orangtua sehingga lupa berdoa untuk diri mereka sendiri. Atau mungkin mereka telah berdoa minta Allah jaga, tapi hidayah itu tidak mereka jemput, dari buku buku, dari alquran, dari ceramah dan nasehat para ulama atau dari kajian yang sering lupa mereka hadiri.
Jadi bersyukurlah atas penjagaan yang Allah berikan. Nikmat seperti ini sangat susah didapat. Nikmat begini lebih mahal dari drone, mirrorless, graphic tablet, dan bahkan dari dunia sama isi isinya. Jemput terus hidayah itu dari kesempatan kesempatan yang Allah tebarkan untuk kita setiap hari.
Jaga diri baik baik, dan istiqomahlah. You have come this far, dont give up now. Selalu ada hadiah dari Allah bagi orang yang menjaga.
Selamat berdoa dan menjaga, untuk kita💪⚡
#edisiHijrah
#ehTernyataMasihJalanDitempat
#mariPerbaikiUlangNiatKita
#bukanShafAjaYangPerluLurus
#tapiNiatJugaWajibLurus
mataram, potongan keduapuluhtiga Ramadhan
Kamis, 23 Juni 2016
dari dapur, lahir rasa cinta dan rindu yang begitu legit
Entah bagaimana bisa, setiap perempuan yang dulu katanya tidak bisa memasak
ketika menjelang pernikahan. Mereka tiba-tiba bisa dengan seiring berjalanannya
waktu. Setidakbisa apapun ibu “bermain” di dapur, pasti ada saja satu atau dua
karya tangannya yang kita sukai. Meski itu sesederhana teh hangat.
Ada milyaran cinta di masakan ibu yang kita rasakan. Seolah-olah ingin mengenyangkan kerinduan kita pada setiap mili-cinta yang tidak kita temukan di warung-warung dan restoran mewah. Ada candu yang membuat kita begitu rindu kepada rumah untuk segera pulang demi mencicipi masakan ibu.
Saya belajar bahwa bentuk ibadah seorang perempuan yang sudah menikah itu sangat unik. Tidak seperti laki-laki yang harus benar-benar pergi ke masjid dan sebagainya. Bentuk ibadah perempuan menjadi sesederhana mengaduk gula saat membuat minuman. Membuka pintu dengan senyuman. Atau ketika ia dengan senang hati membereskan pakaian yang kotor dan lantai yang berdebu.
Melihat ibu yang demikian, aku belajar untuk tidak pernah menyia-nyiakan apapun yang beliau buatkan. Karena aku tahu, rasa bahagia ketika setiap sajiannya habis dengan lahap olehku.
Karena semua pemahaman ini berawal dari masakan ibu. Yang penuh cinta dan ketulusan. Yang akan menjadi saksi bahwa ibu telah melakukan yang terbaik untukku. Sekarang giliranku.
Ada milyaran cinta di masakan ibu yang kita rasakan. Seolah-olah ingin mengenyangkan kerinduan kita pada setiap mili-cinta yang tidak kita temukan di warung-warung dan restoran mewah. Ada candu yang membuat kita begitu rindu kepada rumah untuk segera pulang demi mencicipi masakan ibu.
Saya belajar bahwa bentuk ibadah seorang perempuan yang sudah menikah itu sangat unik. Tidak seperti laki-laki yang harus benar-benar pergi ke masjid dan sebagainya. Bentuk ibadah perempuan menjadi sesederhana mengaduk gula saat membuat minuman. Membuka pintu dengan senyuman. Atau ketika ia dengan senang hati membereskan pakaian yang kotor dan lantai yang berdebu.
Melihat ibu yang demikian, aku belajar untuk tidak pernah menyia-nyiakan apapun yang beliau buatkan. Karena aku tahu, rasa bahagia ketika setiap sajiannya habis dengan lahap olehku.
Karena semua pemahaman ini berawal dari masakan ibu. Yang penuh cinta dan ketulusan. Yang akan menjadi saksi bahwa ibu telah melakukan yang terbaik untukku. Sekarang giliranku.
Senin, 20 Juni 2016
Tak terasa sudah memasuki setengah ramadhan, rembulan malam ini
adalah rembulan penuh. Bagi teman-teman yang sempat menyaksikan langit
malam ini yang cerah, akan tampak begitu manis rembulannya. Di tengah
nikmatnya melihat rembulan tadi malam. Kita mungkin menjadi sebagian
kecil umat yang bisa menikmatinya.
Di tengah begitu banyak ujian yang menimpa orang lain. Kita adalah orang-orang yang tidak pernah pantas untuk mengeluhkan hidup ini sebenarnya. Terlalu banyak nikmat yang kita dapatkan dibandingkan dengan apa-apa yang kita khawatirkan.
Ramadhan ini berlalu begitu cepat, tak terasa mungkin besok tiba-tiba sudah hari raya. Dan kitapun tenggelam dalam euforianya, lupa berempati, dan kembali lagi ke kebiasaan-kebiasaan lama. Sangat disayangkan bila ibadah selama ini pun hanya sebagai bentuk euforia.
Kemarin di Masjid Kubah Biru
, barisan shalat isya dan tawarih pun semakin “maju”, artinya semakin sedikit. Dan hampir selalu terjadi dimana-mana, pertengahan ramadhan sebagian besar masjid berkurang jamaahnya. Sahur pun malas-malasan. Dan berbagai indikasi penurunan lainnya.
Mengapa selalu demikian? Seolah-olah ramadhan ini memang sebuah perayaan dengan euforia yang naik turun. Menjalaninya bukan dengan sebuah kesadaran bahwa ini adalah bulan yang berkah dan penuh rahmat. Hanya sekedar menjalani dan ikut meramaikan suasanannya.
Seperti toko-toko baju yang memajang aneka hiasan bernuansa ramadhan, iklan-iklan yang bernuasa sama, semuanya hanya ikut merayakan euforianya. Tidak memberikan esensi dan makna yang tepat. Jangan-jangan kita pun salah dalam menetapkan niat dan memaknai ramadhan ini hanya sebagai sebuah ritual ibadah, tidak lebih dari itu. Mari renungkan kembali.
potongan ke 15 bulan Ramadhan
Di tengah begitu banyak ujian yang menimpa orang lain. Kita adalah orang-orang yang tidak pernah pantas untuk mengeluhkan hidup ini sebenarnya. Terlalu banyak nikmat yang kita dapatkan dibandingkan dengan apa-apa yang kita khawatirkan.
Ramadhan ini berlalu begitu cepat, tak terasa mungkin besok tiba-tiba sudah hari raya. Dan kitapun tenggelam dalam euforianya, lupa berempati, dan kembali lagi ke kebiasaan-kebiasaan lama. Sangat disayangkan bila ibadah selama ini pun hanya sebagai bentuk euforia.
Kemarin di Masjid Kubah Biru
, barisan shalat isya dan tawarih pun semakin “maju”, artinya semakin sedikit. Dan hampir selalu terjadi dimana-mana, pertengahan ramadhan sebagian besar masjid berkurang jamaahnya. Sahur pun malas-malasan. Dan berbagai indikasi penurunan lainnya.
Mengapa selalu demikian? Seolah-olah ramadhan ini memang sebuah perayaan dengan euforia yang naik turun. Menjalaninya bukan dengan sebuah kesadaran bahwa ini adalah bulan yang berkah dan penuh rahmat. Hanya sekedar menjalani dan ikut meramaikan suasanannya.
Seperti toko-toko baju yang memajang aneka hiasan bernuansa ramadhan, iklan-iklan yang bernuasa sama, semuanya hanya ikut merayakan euforianya. Tidak memberikan esensi dan makna yang tepat. Jangan-jangan kita pun salah dalam menetapkan niat dan memaknai ramadhan ini hanya sebagai sebuah ritual ibadah, tidak lebih dari itu. Mari renungkan kembali.
potongan ke 15 bulan Ramadhan
Langganan:
Postingan (Atom)





