Ada yang bergemuruh dalam hati, namanya rindu.
Ada yang menenangkan, namanya do'amu.
Ada yang diam-diam menggugu semalam, namanya aku.
Jumat, 30 Juni 2017
Ibu
Kamis, 15 Juni 2017
Menjaga Jarak
Kemarin aku ke mushalla sebuah pusat perbelanjaan di Jogja. Karena mushallanya tidak sebesar masjid di lantai atas, jadi jamaah harus antri sebagian di luar, menunggu jamaah yang di dalam selesai. Rasanya adem, masjid dan mushalla disini, meskipun di mall, selalu ramai. Seusai shalat, karena ada jamaah lain yang menunggu, satu persatu jamaah keluar dari mushalla. Karena pintunya cuma satu akses, jadi harus begantian.
Semuanya rapih, karena punya wudhu, laki-laki dan perempuan memisahkan diri dengan sendirinya. Laki-laki jalan terlebih dahulu. Tidak ada yang bersentuhan satu sama lain. Menjaga jarak. Semua keluar dengan tertib.
Lalu aku menggumam. Sepertinya suasana ini yang aku rindukan.
Kalau semua muslim dan muslimah di negeri dengan penduduk muslim terbanyak di dunia ini menjaga wudhu dengan baik, sepertinya tidak akan ada fenomena seperti sekarang. Ketika di social media laki-laki dan perempuan begitu dempet tanpa ada jarak. Ketika di dunia nyata, yang bukan mahram dengan sengaja bersentuhan tidak dalam batasan normal.
Kalau semua muslim dan muslimah menjaga wudhu, tak ada namanya demi relationship goal, muda mudi begitu mudah bermesraan di depan umum. Demi foto yang bagus, sampai lupa kalau foto-foto di social media kelak akan dipertanggungjawabkan di hari akhir.
Kalau semua muslim dan muslimah menjaga wudhu, aih setan pasti pusing bukan kepalang, darimana dia bisa menggoda manusia agar gandeng-gandengan, sender-senderan, dan peluk-pelukan sama yang bukan mahram?
Kalau semua muslim dan muslimah menjaga wudhu, tentu masing-masing akan tegas dengan sendirinya. Tidak merabunkan batasan, menjaga satu sama lain.
Hari ini mushalla di satu pusat perbelanjaan, memberi aku sebuah pelajaran berharga. Bahwa wudhu memiliki sebuah arti…untuk menjaga apa yang seharusnya dijaga. Menjaga diri, menjaga orang lain, menjaga dari bisik setan, menjaga nafsu, dan menjaga kesucian.
Semoga tiap-tiap dari kita senantiasa semangat belajar. Dan sebaik-baik ilmu adalah yang diamalkan :)
Semoga dapat menjadi pengingat untuk diri sendiri. Wallahua'lam, yang masih miskin ilmu,
Jogja, 5 Juni 2017.
Sabtu, 06 Mei 2017
Cerpen: perempuan-perempuan yang cantik
“Pak, perempuan yang paling Bapak suka itu yang seperti apa?” tanyaku suatu sore.
“Bapak suka sama perempuan yang mudah bersyukur.” jawabnya.
“Itu yang paling cantik menurut Bapak?” aku menegaskan pertanyaan.
“Iya, perempuan yang mudah bersyukur adalah perempuan yang paling cantik.” ujarnya.
* * * *
Percakapan itu melewati lebih dari empat musim. Melewati siang dan malam, melewati ribuan kilometer, melewati begitu banyak detik. Pertanyaan dan jawaban yang baru dimengerti setelah semua jarak dan waktu telah ditempuh.
Aku tidak tahu maksud Bapak tentang perempuan yang mudah bersyukur itu seperti apa. Aku hanya mengiyakan kala itu. Bertahun setelah pertanyaan dan jawaban itu terjadi, aku baru memahami hari ini betapa cantiknya perempuan yang mudah bersyukur.
Ditengah obrolan-obrolan di ruang laki-laki bersama teman-teman sebaya. Begitu banyak laki-laki yang resah dengan status pekerjaannya, juga penghasilannya. Ditengah harga rumah yang melangit, harga kebutuhan pokok yang mahal, apalagi harga susu bayi. Dgah rekan-rekan wanita di lingkungan kerjanya yang menurut mereka “high-maintenance” yang memerlukan banyak biaya untuk gaya hidup. Obrolan tentang keresahan finansial laki-laki selalu jadi tren yang tidak surut. Juga tuntutan keluarga dan masyarakat tentang kemapanan. Kata “kemapanan” selalu jadi monster yang paling menakutkan bagi laki-laki.
Juga obrolan-obrolan di ruang perempuan, tentang ketidakyakinannya dengan laki-laki yang dekat atau mendekatinya saat ini. Tentang pekerjaan dan lagi-lagi, perihal kemapanan. Didukung oleh pertanyaan beruntun dari orang tuanya, dia kerja apa, dimana, berapa gajinya, dan segala bentuk interogasi yang menguliti sisi harga diri laki-laki.
Hidup di zaman yang sangat meterialistik ini, segala sesuatu diukur secara materi. Dikalkulasi secara matematis, didata dengan benda-benda dan kepemilikan. Dan semakin ke sini, semakin menjadi-jadi.
Di tengah keresahan itu. Aku menjadi paham apa maksud Bapak bertahun lalu. Perempuan yang paling cantik adalah perempuan yang mudah bersyukur. Bersyukur atas rezeki yang diberikan kepadanya melalui laki-laki yang menjadi pasangannya. Bersyukur dan mendukung setiap usaha baik dari laki-laki yang ingin terus menafkahinya.
Rasa syukur yang membuat laki-laki merasa aman dan tenteram terhadap setiap jihad dalam rangka memenuhi kebutuhan rumah tangga. Rasa syukur dari perempuan yang dicintainya, yang membuatnya percaya diri untuk membangun usaha-usahanya. Rasa syukur dari perempuan yang ingin dia bahagiakan dan jaga kehidupannya.
Bukankah begitu banyak laki-laki yang berlaku curang, korupsi, melakukan penipuan proyek, manipulasi anggaran, minta bagian, dan hal-hal semacam itu. Banyak yang karena tuntutan perempuan yang kurang bersyukur atas rezeki yang didapat. Selalu merasa kurang, selalu merasa tidak cukup dan ingin lebih banyak.
Aku semakin mengerti apa maksud Bapak bertahun lalu. Meski aku tahu, menjadi perempuan yang mudah bersyukur itu sebuah tugas yang tidak mudah, apalagi hari ini. Perempuan yang mudah bersyukur adalah perempuan yang paling cantik, rasa syukur atas segala hal yang ada dan berasal dari laki-laki yang menjadi pasangan hidupnya.
Tentu saja, itu tercermin dari Bapak dan mamak, orang terdekat yang paling aku pahami tentang betapa rasa syukur mamak yang begitu tulus, membuat Bapak menjadi orang yang menurutku paling bahagia. Segala hal baik Bapak kerjakan demi kehidupan mamak dan keluarga yang lebih baik, Mamak tidak pernah menuntut lebih, tidak juga meminta. Mamak adalah perempuan yang penuh rasa syukur.
Dan aku menjadi tahu, kelak bagaimana aku bersikap.
Rumah, Menjelang ahad pagi, 7 Mei.
Minggu, 23 April 2017
KCB itu,.
Menggenap satu tahun, Kamu tau gimana rasanya aku saat Allah pertemukan dengan mereka gimana?
Perasaannya itu terharu sekaligus terhore 😁😍
Orang-orang yang memilih menjadi berdaya, dengan segala upaya, melahirkan kecintaan orang banyak pada benda yang bernama buku; mulai dari ngelapak, ngadain 'kajian-kajian' dari buku-buku yang 'ringan sampe yang berat', belajar menulis, mengalirkan buku-buku yang baik dan layak baca untuk mereka yang notabene lebih butuh nun jauh disana dan banyak lagi ❤❤
jadi jangan heran kalau saat mampir ke basecamp KCB-Mataram, kita akan disuguhkan pemandangan tiada tara dengan tersusunnya buku-buku yang aseliiii bakalan bikin pengen di angkut semua ke rumah😁, dan yang lebih sweet itu, saat kita boleh minjem buku apa aja dengan lama sesuka hati *tapi nggak buat selamanya lho ya😂* dan nggak lupa, orang-orangnya humble sekalii ❤❤ :)
Karna makin kesini, rasanya budaya baca mulai meredup *kecuali baca status di medsos yak 😌*.
"Kurang-kurangin main medsosnya, lebih baik baca buku, karna kamu nggak akan tau gimana beratnya perjuangan hidup di depan" gitu kata dosen dulu masi-masi jamannya kita imut-imut *eh?? 😂
Kalau kataku, aku senggaknya harus lebih banyak tau-banyak baca, selain bisa jadi bahan buat aku belajar, bisa jadi ilmu yang mengalir *insyaallah*, mana tau besok lusa akan lebih banyak yang bisa aku diskusiin bersama kamu di temani teh hangat atau coklat hangat buatan aku, jadi kamu bisa lebih lama menghabiskan waktu dirumah, bersama aku *ihihihi
*karna masih banyak yang belum tau apa itu KCB, KCB adalah singkatan dari Ketika Cinta Bertemu, eh?? Becanda ding. KCB itu Sebentuk Komunitas Cinta Baca, dengan misi menghidupkan budaya literasi, menulis kemudian berdaya :). Jangan tanya buku-bukunya dari mana, bukankah ketika kita memiliki niat baik maka jalan akan Allah bukakan? Right? Yang aku paham, sebagian besar buku-buku yang ada di basecamp itu adalah buku-buku punya akak-akak dan abang-abang KCB yang lebih memilih menyimpan buku-buku kesayangannya di rak-rak KCB dari pada di rak-rak kamar sendiri, mungkin seperti pikirku "semoga jadi amal mengalir", selebihnya? Rizki itu datang dari arah yang selalu nggak keduga, seperti hibah dari kompas waktu itu dengan membawa serta 100 eksemplar buku dan masih banyak lagi :')
Doakan ya, semoga hati kami adalah hati yang selalu semangat menebar kebermanfaatan dengan wajah yang selalu cerah ceria :')
Selamat memeringati hari buku sedunia, 23 April 2017 :)
Jumat, 21 April 2017
Tulisan: Lebih
Kalau kita mau merenung lebih banyak, menghentikan sejenak diri dari rutinitas. Kemudian mengambil waktu untuk menyaksikan bagaimana setiap manusia bergerak dari satu tempat ke tempat yang lain. Lantas menyelami setiap sisi kehidupan manusia dari matahari terbit hingga hilang dari permukaan.
Rasanya, keberadaan kita di dunia ini seperti sama sekali tidak berarti. Tidak lebih berarti dan bermanfaat dibandingkan orang-orang yang selama ini mungkin kita pandanga sebelah mata. Orang yang secara materi tidak lebih baik dari kita, yang secara penampilan tidak lebih bersih dari kita, juga mungkin secara beribadah tidak lebih mudah dari kita.
Betapa sombongnya diri kita sehingga kita merasa hidup kita yang terlihat mudah dan menyenangkan ini, dengan segenap cita-cita yang tinggi, dengan segudang kebahagiaan, makanan yang lezat, juga kemudahan lain. Kemudian kita merasa bahwa kita adalah orang baik, barangkali lebih mudah masuk surga.
Kalau saya ajukan pertanyaan tentang; apa yang sudah kita lakukan hari ini sehingga memberi manfaat kepada banyak orang?
Apakah waktu kita hari ini hanya habis untuk duduk manis di depan komputer, menulis segala hal indah dan sendu, atau habis bercengkerama dengan teman kemudian tertawa terbahak, atau habis dengan duduk di ruang diskusi membaca semua hal. Kemudian kita merasa sudah melakukan sesuatu yang bermanfaat.
Bermanfaat untuk diri sendiri? Betapa egoisnya kita selama ini, melakukan segala sesuatu hanya untuk kebermanfaatan diri sendiri.
Jangan-jangan keberadaan kita di dunia ini tidak lebih bermanfaat dibanding dengan keberadaan para pemulung, tanpa saya bermaksud merendahkan pekerjaan tersebut. Barangkali “nilai” mereka lebih baik dari kita, kita sibuk berpikir bagaimana hidup kita nanti menjadi lebih baik, lebih kaya, lebih tinggi derajatnya. Kita lupa bahwa sebagaian besar orang seperti mereka (pemulung), sibuk membersihkan hal-hal itu demi kota yang lebih bersih.
Nilai hakiki kita tidak lebih baik dari orang-orang yang selama ini kita pendang sebelah mata, bukankah nilai manusia tidak diukur dari label pendidikan, banyaknya harta, paras, dan segala hal yang bersifat tidak selamanya.
Kelak timbangan kita hanya mau menimbang amal, bukan harta, bukan hal lain yang selama ini kita kejar. Dan amal itu adalah buah dari kebermanfaatan kita selama hidup. Jadi, hari ini apakah kita sudah memberi manfaat?
-Rumah, Di Penghujung hari kartini
Jumat, 10 Maret 2017
Rumusnya, tidak selalu apa yang sulit didapatkan itu bertahan lebih lama dari yang lebih mudah didapatkan. Ini bukan tentang perkara besar kecilnya perjuangan, melainkan tentang betapa takdir tidak bisa dikalkulasi dengan cara matematis. Semuanya bergantung kepada ridha Allah, sesuatu yang selama ini kita abaikan karena besarnya hasrat dan keinginan yang menguasai diri kita.
Senin, 13 Februari 2017
Aku menggenggam erat kata-kata itu. Itu selalu lebih dari cukup. Walaupun cintaku, untuk-Nya, tak pernah sempurna.
Aku tidak mau lagi, merasa terheran mengapa Allah terkadang memberi hal-hal pahit. Iya, Allah sedang mengajarkan bagaimana kamu menerima dirimu sendiri. Kamu yang yang tidak sempurna dengan segala masalah-masalahmu. Kamu dengan segala hal pahit diluar kuasamu.
Tetapi,
Allah juga mengajarkan bahwa tidak ada ujian yang tidak dapat dilalui.
Dan kini, kamu berhasil, kan?
Kamu tinggal menengok ke belakang dan mengucapkan terimakasih atas segala yang terjadi. Karena ketika mungkin besok ada yang lebih berat atau justru lebih ringan, kamu sudah terbiasa. Kamu menjadi sekuat baja.
Allah hanya ingin kamu tahu, bahwa;
“Allah itu sayaaaaang sekali sama kamu.”
Rumah,14 Februari 2017