Jumat, 30 Agustus 2019
Membangun visi misi keluarga itu berangkat dari memilih pasangan hidup.
Libatkan Allah terus, minta Allah untuk menuntun. Bersegera, tapi jangan tergesa. Pilihlah yang memiliki nilai dan prinsip yang tak berseberangan secara fundamental denganmu, apapun itu, yang menjadi peganganmu.
Sholeh/ah itu luas. Peranan yang mau diambil untuk berusaha menjadi alim atau takwa itu banyak. Yang wajib adalah wajib. Sisanya soal pemikiran, kedewasaan, karakter, keluarga besarnya, pekerjaan, dan lain-lain takarlah di takaran yang sekiranya bisa kita tolerir. Sesuai kemampuanmu menerima.
Bertanyalah saat proses, pelajari dirinya dari caranya memerlakukan keluarganya atau anak kecil, periksa hubungannya dengan teman dekatnya. Ikhtiar ini, bisa kita optimalkan.
Ini nasihat, buat teman-teman yang sedang berproses. Selanjutnya, sejak awal hingga akhir bertawakkallah kepada Allah..
Ingat, jangan dicari kesempurnaan itu. Tak bakal kamu temukan pun sampai habis daya kamu mencarinya.
Ingat-ingatlah, menikah ini ajang beribadah. Kalaupun kamu punya sedikit petunjuk tentang dia dari usahamu mencari, mengorek, sedang sudah istikharah, direstui, dan memiliki kemantapan hati, maka…selama kamu libatkan Allah dan restu kedua orangtuamu, Allah nanti yang akan menuntunmu dengan caraNya.
Berumahtangga itu tak mudah, tapi dengan kuasaNya, pasti kita sanggup melaluinya.
Minggu, 25 Agustus 2019
Bahagia
Ada sebagian orang—yang untuk—merasa bahagia, mereka harus pergi ke luar kota. Dan sebagian yang lain, bahagia, bagi mereka, “…sederhana.”
“Bahagia itu disini,” menepuk dadanya. “Jiwa yang mengenal Allah, jiwa yang menghamba dengan sepenuhnya kepada Allah.” Barangkali, demikianlah yang akan dikatakan orang-orang yang mampu merasakan bahagia dengan sederhana. Maa syaa Allah..
Untuk bahagia, kita kira sejauh apakah kaki harus melangkah? Sedangkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullahu Ta’ala pernah berkata ketika berada di dalam penjara, “Seandainya benteng ini dipenuhi dengan emas, tidak ada yang bisa menandingi kenikmatanku berada di sini.”
Jiwa-jiwa yang tetap merasa tenang, jiwa-jiwa yang tetap teguh dalam pendirian. Jiwa yang bersabar, jiwa yang ikhlas, jiwa yang jujur, jiwa yang setelah maksiatnya segera kembali dan bertaubat kepada Rabb-nya.
Merekalah, yang memiliki kebahagiaan yang sejati. Bahagia yang tidak harus dicari lagi, bahagia yang tidak akan meninggalkannya pergi. Bahagia yang tidak membutuhkan harta untuk dibeli.
Orang-orang seperti ini, dengan melihatnya saja akan menumbuhkan getaran di dalam hati. Seolah bahagianya terpancar, menular.. Maa syaa Allah, laa quwwata illa billah..
“Seandainya,..” Demikian ujar seorang salaf, “..seandainya para raja dan pangeran itu mengetahui kenikmatan yang ada di hati kami ini, tentu mereka akan menyiksa kami dengan pedang.”
Senin, 22 Juli 2019
“Jika Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang, mengapa Allah menciptakan Neraka?”
“Jika Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang, mengapa Allah menciptakan Neraka?”
Pertanyaan diatas adalah pertanyaan yang sering saya dapatkan dari orang yang belum mengenal dirinya, untuk apa ia diciptakan dan belum “mengenal” Siapa Penciptanya.
Jawabannya, Allah Ta'ala menciptakan neraka, bukan berarti Dia benci ataupun zhalim kepada hamba-Nya, justru itu sebagai salah satu tanda bukti Maha Adilnya dan tanda Allah Maha Penyayang.
Kenapa?
Karena manusia butuh diatur dan dijaga dari ketidakmampuannya dalam mengenal kebebasan. Orang-orang beriman tahu bahwa ada rahmat dan azab, dan seseorang hanya mendapatkan salah satu darinya (entah itu rahmat atau azab). Jadi, dia akan berusaha untuk menjauhkan dirinya dari azab Allah dan mendekatkan dirinya menuju rahmat dan kasih sayang-Nya, dengan berusaha menjauhi perbuatan-perbuatan buruk ataupun zhalim dan sesat.
Orang yang beriman mematuhi batasan-batasan Allah Azza Wa Jalla, menjauhi larangan-Nya, dan mencari ridha Allah dengan sebaik mungkin. Dia tahu bahwa hal ini akan menyelamatkan dirinya dari azab Allah di akhirat.
Sekarang saya ingin bertanya, adilkah Allah apabila Dia membiarkan manusia begitu saja, melakukan kemaksiatan, kejahatan kepada sesama dan apapun yang mereka mau tanpa adanya “balasan” berupa siksa neraka jika tidak bertaubat sebelum ajal menjemput?
Lalu semua masuk Surga, baik yang taat maupun yang tidak?
Allah Ta'ala dibanyak ayat selalu menyatakan bahwa sebaik-baik orang yang berdosa adalah bersegera bertaubat, agar ia mendapatkan ampunan dan rahmat-Nya. Tiada lain agar manusia hidup dengan “teratur”, karena manusia tentu tidaklah sama dengan binatang, yang hawa nafsu dan syahwatnya dibiarkan tanpa penjagaan dan tanpa aturan.
Tidak terbayang jika Allah Ta'ala tidak menciptakan neraka, manusia sebejat apapun bebas dari hukuman. Tuhan seperti itukah yang dirimu mau?
Hal ini juga ditegaskan-Nya dalam Al-Qur'an
وَمَا أَنَا بِظَلاَّمٍ لِلْعَبِيْدِ
“Dan Aku tiadalah akan melakukan kezhaliman kepada hamba-hamba-Ku.” (QS. Qaf :29)
Laa hawla wala quwwata Illa billah. Wallahu waliyyut taufiq.
Mataram menuju siang dikala itu
Ujian Perasaan
Kita semakin tumbuh dari hal-hal yang membuat kita patah. Kita semakin bijaksana dari apa-apa yang membuat kita kecewa. Dan kita semakin kuat dari kejadian yang membuat kita lemah. Bersabarlah, kita diuji untuk menjadi lebih baik.
Setiap sedih dan kecewamu tidak meminta untuk dipahami saat ini. Terkadang ia hanya ingin diakui dan diterima keadaannya.
Bersabarlah, meski bebanmu sekarang terasa sangat berat. Jangan dulu menyerah meski kamu sudah tidak mengerti apa yang harus kamu lakukan.
Bertahanlah sejenak, meski menahan perasaan membuat dadamu terasa semakin sesak. Teruslah berjalan meski langkahmu sudah terasa sangat perih.
Kelak suatu hari nanti kamu mampu melihat jalan ceritamu dengan utuh dan lebih jernih. Bersama rasa syukurmu terhadap setiap rencanaNya menyelamatkanmu.
Langganan:
Postingan (Atom)