Sabtu, 02 Februari 2019
Jalan atau Tujuan?
Jalan dan tujuan, bahasa kerennya “end” dan “means to an end”, dan bahasa lebih kerennya lagi “al maqashid” dan “al wasilah”. Jalan dan tujuan adalah dua perspektif yang jauh berbeda dalam melihat mimpi dan capaian pribadi, baik dari segi materi maupun non-materi.
.
Menjadi kaya, misalnya. Apakah itu tujuan atau jalan? Jika kaya menjadi tujuan, maka setelah mendapatkan kekayaan berlimpah maka yang tersisa hanya kehampaan. Begitu juga dengan gelar pendidikan dan jabatan/pekerjaan. Setelah tercapai lalu apa?
.
Maka sudah sepatutnya harta, ilmu, dan kekuasaan itu dijadikan jalan bukan tujuan. Harta kita menjadi jalan terbantunya sanak saudara yang kesulitan untuk membiayai pendidikan anak mereka. Ilmu kita menjadi jalan agar terwujudnya hidup yang produktif, efisien, dan terarah. Kekuasaan kita gunakan untuk mengajak pada kebaikan dan mencegah kemungkaran.
.
Baru-baru ini saya mendengar nasihat pernikahan oleh Ustadz Abdul Somad (satu dari beberapa assatidz yang mahsyur di YouTube, yang ternyata bisa dihitung dengan jari jumlahnya). Beliau berpesan, “Jadikan pernikahan itu jalan, bukan tujuan!” Aku langsung tertegun. Proses dan tahapan dalam penyaringan calon, pendekatan, perkenalan keluarga, dan akhirnya perayaan dengan mengiklankan pada tetangga, saudara, kerabat dan sahabat hanya jalan. Ijab dan qabul itu jalan. Hidup berpasangan itu jalan, bukan tujuan.
.
Pernikahan itu jalan menuju kemana? Jika dibayangkan (tentu yang menulis belum menikah), maka ada banyak hal yang fundamental terjadi setelah pernikahan. Tidak heran sebenarnya saat menikah dimaknai dengan menyempurnakan agama yang separuh lagi karena ilmu, niat, dan amal tidak lagi untuk pribadi tapi kolektif. Walaupun dalam skala kolektif terkecil (dua orang), ada tanggung jawab dan ke-saling-an yang dituntut dalam ikatan pernikahan. It’s no longer all about you, but about us.
.
Pernikahan per se tentu memberikan kebahagiaan saat dirayakan, tapi pernikahan itu jalan bukan tujuan. Jadi, jangan berhenti pada uforianya saja. Banyak orang bahagia karena jalan tol membuat perjalanan jadi lebih cepat dan lancar, tapi tidak ada yang mau bertahan dan nongkrong lama-lama di jalan tol karena tidak ada apa-apa di sana. Jalan tol ada untuk membawa kita pada tujuan.
.
Jika pernikahan adalah jalan tol adalah untuk mempercepat kita mencapai tujuan maka yang perlu kita ketahui adalah kondisi bahan bakar (atau letak SPBU), kendaraan prima, dan tentunya fokus dan ilmu dalam berkendara.
.
Menentukan pola pikir/pendekatan “jalan atau tujuan” sebelum bertindak atau mengambil keputusan adalah cara sederhana untuk terus menyiapkan diri dalam mindset pembelajar yang visioner.
.
Tapi kalau dipikir-pikir semakin kita dewasa maka banyak pilihan hidup jatuh pada kategori “jalan”. Dulu waktu sekolah dasar dan menengah, mindset kita sering kali adalah tujuan, misalnya setelah dapat ranking dan dibeliin hape atau motor, selesai cerita. Bahkan dalam mencari kampuspun, sebagian kita menjadikannya tujuan. Belajar yang serius dan ngurangin hal-hal ga berfaedah selama setahun penuh… yang penting masuk UI, ITB, atau UGM. Setelah masuk eh malah kayak orang bingung dan kehilangan nafsu belajar. Bayangkan, bagaimana bila menjalin hubungan dengan calon pasangan lalu menjadikan pernikahan adalah “tujuan”? Jangan sampai.
.
Akhirnya, bila semua pilihan hidup yang kita ambil adalah “jalan” menuju kebaikan yang lebih besar (for a greater good), tentu hidup akan terus menarik dan dijalani dengan kesabaran. Semoga kita terus bisa mengingatkan diri sendiri dan orang-orang di sekitar kita untuk terus berjuang “for the greater good” dan akhirnya menuju husnul khatimah dengan timbangan amal yang berat.
-Iin Wahyunungsi
Rumah, 2 Februari 2019
Sabtu, 05 Januari 2019
Rumah kedua
Akan menjadi tempat ternyaman untuk aku sendiri.
Memutuskan dengan sadar untuk mulai menulis lagi :)
Semoga bermanfaat, minimal sebagai pengingat untuk diri sendiri, sebagai rekam jejak perjalanan ini.
Iin Wahyuningsi
Rumah, 5 Januari 2018
Punya sepatu cuman satu. Kadang pengeen gitu ganti. Soalnya udah agak buluk. Padahal masih bagus dan cukup layak. Akhirnya kemarin disentil sama Allah.
Pas mampir sholat ke mushola Riyadul Jiinan, ketemu mas-mas sepantaran aku. Sepatu kerjanya 50% udah ngelupas kulit luarnya. Entah karena nggak mau ganti atau belum bisa ganti sepatu, apapun itu... Aku jadi sangat bersyukur. Dan merasa sebenarnya yang aku punya sudah cukup :)
-Iin Wahyuningsi
Labuapi, di hari ke Lima bulan Januari
Cerpen: "Qaaaf haaa yaaa 'aiiiinnsooood"
Selepas menjalankan ibadah magrib, Aisyah mengambil kunci motor yang tergantung di dinding rumah. Saat itu jarum jam ditangannya menunjukkan pukul 18:55 WITA. Kurang lebih membutuhkan waktu 15 menit untuk sampai ke TPQD (Taman Pendidikan Qur'an Dewasa), malam itu Aisyah tidak buru-buru seperti biasanya saat mengendarai motor merah miliknya, santai, tenang. Seperti sedang ingin lebih banyak berbicara pada udara malam yang sejuk.
Sesampainya di TPQ, seorang ibu yang kira-kira berumur 65 tahun sontak menggandeng tangannya "duduk di sini, sama ibuk ya... Ajarkan ibuk ini (sambil menunjuk buku Qiroati jilid 4 pada kolom bawah halaman 22)". Aisyah masih tertegun "hehehe.. Aisyah juga belum muroja'ah, Umi, kan Aisyah belum maju, belum setor sama Ustadzah" jawab Aisyah dengan nada sungkan pada ibu yang biasa Aisyah sapa Umi Kamila.
"Disimak dan diajarkan dah dulu. Nanti kalau sudah selesai, Aisyah Ustadzah simak" tiba-tiba Ustadzah menimpali, Rupanya diam-diam Ustadzah mendengarkan.
Umi Kamila : "ini bagaimana cara bacanya" menunjuk huruf Alif Lam Mim
Aisyah : "kalau ada tanda layarnya begini dibaca panjang 6 harokat. Mim bertasydid dibaca dengung/ditahan 2 harokat. Contoh: aliflaaaaaaammiiiiim" praktek Aisyah sambil menghitung jumlah harokat dengan jari kanan.
Berkali-kali Umi Kamila mempraktekkan dan selalu gagal. Sampai akhirnya, tibalah giliran Umi maju ke Ustadzah untuk menyetor bacaannya. Sekembalinya, Aisyah bertanya "Gimana Umi, L atau L-?" (L sebagai tanda Lulus dan boleh melanjutkan pelajaran ke halaman berikutnya, L- sebagai tanda tidak lulus dan besok harus mengulang di halaman yang sama),
"L-" kata Umi Kamila lemas.
"Sabar sabar... Tandanya harus lebih semangat lagi belajarnya, ya. Dimana nggak lulusnya Umi? " tanya Aisyah setelah menguatkan hati Umi
"Dibagian yang ini" kata Umi sambil menunjuk pada huruf Qaf Ha Ya 'Ain Sod
Aisyah menghela nafas... "Ini huruf mafatih uswar yang paling bikin gregetan Umi, hehehe" kata Aisyah, entah sedang menyemangati dirinya atau Umi Kamila. Sebab, Aisyah anti dapat L- karna pikirnya, perjalanan yang cukup jauh dari rumah ke TPQ itu lumayan menyesakkan dada kalau akhirnya dapat L- dan besok harus mengulang lagi di halaman yang sama.
Tibalah giliran Aisyah, Sempat ada debar-debar asmara yang dirasakan Aisyah saat hendak menghadap Ustazah, "bismillaah".. Gumamnya dalam hati.
Saat maju, Ustadzah meminta Aisyah membaca isti'adah dan basmalah, kemudian menunjuk bacaan pada halaman 40 dan kolom bawah pada halaman. Aisyah menarik nafas panjang pada sesi membaca kolom bawah ini. Semuanya dibaca lancar oleh Aisyah, sampailah jari Ustadzah menunjuk pada bacaan Qaf Ha Ya 'Ain Sod. Sejenak debar jantung Aisyah kian kuat. Aisyah mencoba mengatur nafas lebih dalam lagi. "Hmmm.... Qaaaaaaf Haaaaaa Yaaaaaa 'Aiiiiiin~~~Soooood" lantang Aisyah dalam satu tarikan nafas. Dan tertulis L di kolom ke 15 dalam buku Kontrol Aisyah. Ustadzah tersenyum, sambil bertanya "Siapa yang ngajarin?"
Aisyah menjawabnya dengan senyuman sumringah, bahagia terpancar dari wajahnya sampai ia lupa menjawab pertanyaan Ustadzah.
*****
Selesailah waktu untuk mengaji, santriwati satu per satu meninggalkan TPQ hingga menyisakan Ustadzah dan Aisyah, lebih tepatnya Aisyah menunggu untuk bertanya pada Ustadzah.
"Maaf Ustadzah, bolehkah Ana bertanya?" tanya Aisyah memberanikan diri
"Tanya saja, apa?" sahut Ustadzah memperkenankan
"Diantara huruf mafatih uswar, kenapa banyak yang mengaku kesulitan saat bagian Qaf Ha Ya Ain Sod, dan banyak yang dapat L- berkali-kali?, Ana saja belajarnya berkali-kali, latihan berkali-kali, sampai khawatir pas setor sama Ustadzah dapat L-" Aisyah memulai pertanyaannya
Ustadzah tersenyum (agak ingin tertawa) "Aisyah tau di surah apa huruf mafatih uswar Qaf Ha Ya Ain Sod itu? " tanya Ustadzah dengan wajah yang sedikit serius. Sontak Aisyah berpikir, mengarahkan bola matanya ke atas.
"Hehehe..Lupa, Ustadzah", jawab Aisyah dengan polosnya.
"Kalau begitu, nanti sesampainya di rumah, buka Alqur'an surah ke 19 kemudian renungkan baik-baik ayatnya" jawab ustadzah dengan senyum melengkung dibibirnya, membuat pesona perempuan yang kerap disapa Ustadzah Yanti itu kian menjadi.
Selama perjalanan dari TPQ menuju rumah tak henti-hentinya Aisyah penasaran, bukan apa, sebab diantara huruf mafatih uswar, pada Qaf Ha Ya 'Ain Sod lah jantung Aisyah kerap berdebar, menjadi sedikit sulit bernafas atau sebut saja nervous. Mungkinkah ini cinta? Jika iya, semoga tak 'bertepuk sebelah tangan'. Lho?
Setibanya di rumah, Aisyah langsung membuka mushaf miliknya, "Surah ke 19" gumam Aisyah.
"Surah Maryam... "
*****
Pada Qaf Ha Ya 'Ain Sod lah Surah itu dipermulakan, manjadi pembuka dari satu-satunya nama Surah dalam Al-qur'an yang menceritakan salah satu dari ummul mu'minin yang Allah jamin masuk surga.
Seorang wanita yang bernama Maryam, wanita yang sedari kecil amat terjaga kesuciannya, wanita yang dengan kebesaran hati orang tuanya memilih mengorbankan satu-satunya anak yang mereka miliki untuk menjaga 'rumah Allah' dan mengasingkan diri.
teramat luas kesabaran yang diajarkan Ibunda Maryam, teramat kuat keyakinannya akan kebaikan Robbnya, ditengah berat dan sulitnya Ia saat mengandung hingga melahirkan seorang diri di bawah naungan pohon kurma tanpa seorang pendamping, tanpa seorang hawariyyun-pun, Ia melaluinya, Ia melaluinya, sebab melalui malaikat Jibril, Robbnya telah berfirman;
"Janganlah engkau bersedih hati.,Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya (pohon) itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu., maka makan, minum dan bersenang hatilah engkau... "
(QS. Maryam 19: Ayat 24-26)
Betapa banyak pembelajaran didalamnya.
Diri, sudahkah menjadikan sabarmu seperti sabarnya Ibunda Maryam?
Samakah keyakinan akan Robb mu sebagaimana keyakinan yang diajarkan Ibunda Maryam?
Inikah tanda dari selalu bergetarnya hati saat membaca pembuka Surah Maryam itu?
Iin Wahyuningsi
Mataram, 2 Tahun yang lalu.
Minggu, 12 November 2017
HABIS ITU APA?
Jawab dengan jujur dalam hitungan detik, apa visi hidupmu?
Pengusaha? Seniman? Pejabat? Atlet?
Beberapa minggu lalu, saya baru saja memahami, tentang betapa pentingnya menentukan visi hidup.
Kamu tau, visi hidup saya apa awalnya? Saya ingin menjadi penulis buku.
Namun, muncul pertanyaan baru. Jika saya sudah bisa menulis buku, lantas, habis itu apa?
Jika bicara visi, maka itu adalah “purpose"hidup, yang jika tercapai, maka selesai sudah perjalanan tersebut. Jika sudah tercapai, dan kita belum mati, habis itu apa?
Saya sedang merenungi, jika hari ini, kita sudah menjadi pengusaha paling kaya sedunia, menjadi musisi yang paling terkenal, menjadi atlet terbaik di dunia, menjadi paling top atas profesi yang anda inginkan, habis itu apa?
Kita harus membedakan, yang mana keinginan, dan yang mana visi hidup.
Ketika kecil, saya ingin jadi astronot. Ketika SMP, saya ingin jadi musisi. Ketika SMA, saya ingin jadi Artis. Ketika kuliah, saya ingin menjadi pengusaha.
Kini, saya paham. Hal-hal yang saya inginkan, bukanlah visi hidup, melainkan hanya sebuah keinginan untuk menjawab rasa penasaran. Saya ingin merasakan ke bulan, saya ingin merasakan manggung, saya ingin merasakan punya banyak uang, itu semua, bukanlah visi hidup.
Maka, dari situ, saya memahami, bahwa sebetulnya, visi hidup itu sesungguhnya takkan pernah bisa dicapai disaat kita hidup. Bagi saya, visi hidup manusia itu, hanyalah mendapat ridha dari Tuhannya.
Kenapa begitu? Simple, ketika kita berhasil mendapat ridha Tuhan, habis itu apa? Habis itu, kita bisa menikmati Syurga-Nya. Apakah ada yang lebih baik dari balasan tersebut? Yang saya percaya, tidak ada, itu lah balasan terbaik atas visi hidup seseorang.
Menjadi pengusaha, atlet, musisi, pengajar, entertainer, tak lain, itu hanyalah cara untuk mencapai visi hidup, itu hanyalah misi kecil untuk mencapai "purpose” hidup kita sesungguhnya
Maka, jangan sampai, misi-misi kecil kita, melupakan kewajiban-kewajiban kita, sehingga kita justru malah melupakan visi hidup kita.
Sekarang, silahkan baca kembali pertanyaan saya di awal tulisan ini. Masihkah jawabannya sama?
Mataram, 12 November 2017
Sabtu, 02 September 2017
19082017
Happy graduation, Abang... :')
Semoga setelah ini, pemahamannya kian baik, ilmuanya berkah dan ini itunya Allah mudahkan :)
Selamat berjuang (lagi),
Jangan (mudah) menyerah.. :)
Selamat menempuh hidup baru :D
*jangan tanya gimana susahnya 'nyodok-nyodok' si abang cuma buat satu foto ini aja :X *