Rabu, 05 Oktober 2016

Do'a-do'a yang Tumbuh

Rasanya,  bisa menjadi seorang ibu adalah pelengkap fitrah bagi seorang perempuan.  Bagaimana tidak,  segala lelah,  kepayahan dan kesulitan yang dialami selama kurang lebih sembilan bulan belum lagi ditambah saat-saat ketika akan melahirkan-pertaruhan antara hidup dan mati- tak akan menyurutkan semangat dan suka cita yang akan ia rasakan, demi menjadi seorang Ibu, seseorang yang lahir dari rahimnya, yang akan memanggilnya "ibu"...

Bahwa kita adalah  do'a-do'a yang bertumbuh. Do'a-do'a dari sekian banyak orang yang mendoakan bahkan sedari dalam kandungan.  "Semoga janinnya sehat, lancar persalinannya, menjadi anak yang Shaleh(ah), menjadi anak yang berbakti kepada kedua orang tua,  berguna bagi agama dan bangsa." Belum lagi do'a-do'a yang melantun deras dari Ayah dan Ibu di setiap waktu mereka.

Mengajarkan aku,  betapa setiap manusia pernah dan dulunya adalah do'a-do'a,  tidak ada seorang anakpun yang dikandung dan dilahirkan dengan do'a-do'a yang tidak baik. Termasuk kita..

Bertumbuh dan menjadi dewasa seharusnya juga menyadarkan bahwa kita punya pilihan untuk menjadi jawaban do'a-do'a.
Siapa yang tau, di belahan dunia entah yang mana,  ada orang-orang yang senantiasa mendoakan kita dengan tulusnya. Mana tega kita mematahkannya (?)


*Terimakasih Mamak,  Bapak,  kami tak ada apa-apanya tanpa do'a mu*

Tulisan ini bisa jadi merupakan hasil perjalanan dari Kakak yang kemarin (4 Oktober 2016) resmi menggenapkan fitrahnya :") Barakallah.. 😍❤❤
Selamat menjadi Ibu, kak..😍💞

perempuan dan anak-anak




Bagiku,  perempuan yang bersedia merelakan waktunya untuk membersamai anak-anak adalah kecantikan yang sebenarnya.  Perempuan yang rela memberikan waktunya untuk mengurus mereka,  mengajarinya dengan sabar,  memeluk mereka ketika menangis, menggandeng tangan mereka,  dan mengajarkan hal-hal baik.  Karena yang demikian itu tak banyak yang tulus.  Karena ketulusanlah yang melahirkan setiap mili-energi yang menyusun kata-kata,  menegakkan kaki untuk melangkah dan melembutkan tangan untuk menyentuh mereka.
Bagiku sisi paling menarik seorang perempuan ada di dalam hubungan-hubungan emosinya terhadap orang lain.  Kesantunan dan kelembutan hatinya terlihat saat berinteraksi dengan orang tua dan anak-anak.  Kecantikan yang melampaui kualitas bedak dan gincu,  melapaui model pakaian terkini,  melampaui segala khasiat pemutih,  pelangsing dan lulur mandi.
Perempuan diantara anak-anak itu bidadari,  sebab anak-anak selalu jujur terhadap perasaannya.  Dengan siapa mereka nyaman dan tidaknya, dengan siapa mereka mau dekat dan tidaknya.
Selalu cantik,  perempuan yang bisa menggerakkan hatinya  untuk hadir dalam urusan anak-anak.

Minggu, 02 Oktober 2016

Percaya dan Mempercayakan


Pada beberapa hari yang lalu.  Ketika aku selesai memarkirkan motorku di pelataran sebuah Toko Buku, aku menyaksikan orang-orang memberikan tas-tas mereka kepada petugas penitipan.  Aku berpikir sesuatu yang mungkin sadar atau tidak menjadi refleksi dalam hidup yang aku jalani.  Tentang satu hal yang mungkin sering luput,  yaitu tentang percaya dan mempercayakan.
Mengapa bagiku kata sifat "percaya" harus diikuti dengan kata kerja "mempercayakan"? Banyak hal dalam hidup telah mengajarkan dan menunjukkan bahwa kedua hal ini tidak seharusnya dipisahkan.  Lihatlah betapa para penitip tas itu sejak awal mempercayakan tasnya untuk dititipkan. Alhasil,  dia tidak perlu khawatir dan memikirkan bagaimana nasib tasnya di tangan orang lain itu. Ada sikap mempercayakan yang membuatnya yakin bahwa barang yang dia titipkan akan baik-baik saja.

Dalam konteks hubungan manusia dengan Allah sebagai Maha Pencipta,  hal ini menjadi renungan yang baik.  Banyak diantara kita yang masih sebatas percaya kepada Allah tapi tidak mempercayakan hidup kita kepada-nya.  Kita mempertanyakan dan mengkhawatirkan banyak hal dalam hidup yang sebenarnya--apabila kita mampu mempercayakan hidup kita kepada-Nya--kita akan baik-baik saja dan kita akan selamat.
Mengapa aku berani mengatakan bahwa banyak yang percaya kepada Allah tapi tidak berani mempercayakan?  Lihatlah betapa banyak orang sangsi tentang masa depannya.  Mengenai urusan jodoh, misalnya.  Orang baik tentu akan bertemu dengan orang baik pula.  Namun sedikit yang percaya mengenai hal itu.  Maka ramailah orang-orang tersebut bermain perasaan dengan berdekat-dekat secara intens kepada orang lain (pacaran).  Ketakutan tentang kalau tidak begitu (pacaran)  nanti tidak dapat-dapat jodoh.  Ini pikiran masyarakat umum.

Ya,  kita percaya kepada-Nya,  tetapi tidak bisa mempercayakan hidup kepada-Nya.  Pun dalam urusan lain-urusan lain dalam hidup ini, kita baru pada sebatas percaya kepada Allah. Percaya bahwa Dia ada.  Namun kita banyak mempertimbangkan ketika kita ingin mempercayakan hidup kita kepada-Nya. Banyak kekhawatiran,  banyak asumsi,  banyak spekulasi dan banyak syarat yang kita buat.
Ketika apa yang Allah berikan ternyata tidak sesuai dengan harapan atau ekspektasi kita,  maka kita mulai mundur satu langkah dari sikap mempercayakan ini,  dan berakibat pada turunnya tingkat kepercayaan kita kepada-Nya dalam hal-hal yang lain.

Mari kita sama-sama koreksi diri jika kita sudah mengakui percaya kepada Allah.  Sejauh mana kita bisa  mempercayakan hidup kita ini di tangan-Nya?  Tentang masa depan kita,  tentang jodoh kita,  tentang hal-hal yang sampai saat ini mengganggu pikiran kita dan membuat kita tidak tenang dalam menjalani hidup. 
Bisa dibanyangkan dalam cerita di atas, seandainya jika para pemilik tas sudah menitipkan barangnya dan ternyata tidak memiliki sikap mempercayakan sepenuhnya.  Bisa jadi ketika berbelanja,  dia tidak akan "khusyuk" dengan buku yang ia cari Karena terus kepikiran tasnya; apakah tidak apa-apa, apakah tidak akan dibawa orang tadi, apakah tidak rusak,  apakah isi di dalam tas akan tetap sama,  atau bagaimana bila hilang. 
Kekhawatiran kita dalam hidup mirip seperti itu.  Sudahkan kita mempercayakan hidup kita kepada Allah?  Dan sejauh mana kita sudah berikhtiar untuk hidup kita?  Allah menjamin banyak hal dalam hidup,  dan kita diminta untuk berikhtiar dengan sebaik-baiknya.
Ketika kamu percaya untuk menitipkan tasmu dan kamu memiliki sikap mempercayakan, penjaga tas akan senang dan dia hanya ingin kamu berbelanja/memilih buku dengan "khusuk" dan tenang tanpa memikirkan tentang tasmu sama sekali.  "Berbelanjalah dengan tenang, aku akan menjaga tasmu ini dengan baik serta menjaminnya.  Aku akan memberikannya jika kamu sudah selesai berbelanja" mungkin seperti itu bahasa yang dikatakan oleh penjaga tas.

Allah akan memberikan jawaban-jawaban atas sikap mempercayakan kita kepada-Nya.  Allah menyukai hamba-Nya yang berserah diri.  Berserah diri adalah bentuk kata lain dari mempercayakan hidup sepenuhnya tanpa keraguan sedikitpun pada sesuatu yang kita percayai.  Ikhtiarkan hidup kita sebaik-baiknya dan titipkan hidup kita ini kepada-Nya.

Hingga pada suatu saat kamu benar-benar bisa mengatakan "Aku telah mempercayakan hidupku kepada Allah, aku tau Dia adalah sebaik-baik penjaga dan sebaik-baiknya dalam menepati janji"





Selamat tahun baru hijriah.  Semoga ini benar-benar menjadi awal yang baik.. ❤❤









Selasa, 27 September 2016

Bertanya Pada Diri Sendiri


Dulu aku tak terlalu tau soal ini,  bahkan aku menganggap topik ini sangat egois. Masih banyak urusan lain yang harus diurus, kita tak boleh melulu berpikir tentang diri sendiri.

Tapi,  makin kesini aku makin sadar. Kebermanfaat aku di masyarakat juga perlu diimbangi dengan manajemen diriku sendiri.

Ada satu titik diamana, jika kita tak benar-benar tau apa yang kita mau,  kita tak benar-benar melangkah maju.

Ada teman yang skripsinya selesai lebih dulu, kita bingung.  Ada teman yang jodohnya datang lebih dulu,  kita cemburu.  Ada teman yang prestasinya melaju, kita bahkan dengan kemampuan diri-kian ragu.
Lalu  sebenarnya kita ini... Maunya apa?

Padahal kita ini hanya harus melawan diri sendiri. Egoisme,  gengsi,  kemalasan,  ketidakfokusan dan abcde yang lain,  yang sumbernya ada dalam diri sendiri.

Kita perlahan harus mulai menata,  untuk lebih tau apa yang sebenarnya diri kita butuhkan,  apa sebenarnya mimpi kita,  apa yang membuat diri kita jadi ladang manfaat untuk orang-orang disekitar.
Maka sejatinya setelah itu kita jadi lebih mudah memetakkan.  Mana langkah yang seharusnya dimantapkan,  mana yang tidak linear dengan fokus,  dan mana yang sekiranya banyak mudharatnya.

Kitalah nahkoda kapal yang kita naiki sendiri!  Meski ombak dan anginnya menakutkan 😁😁

Kita tidak akan pernah tau seberapa menakutkannya hidup yang bakal kita jalani kedepan,  tapi lebih menakutkan lagi kalau kita tidak pernah mencoba memperjuangkanapa yang kita perjuangkan sedari dulu.

Tanyakan sekali lagi pada diri sendiri;  hidupmu akan digunakan untuk apa?  Kamu ini siapa?  Maunya apa?  Rencana kedepannya bagaimana?  Cara mencapainya seperti apa?  Sebelum yang tanya... Malaikat Raqib dan Atid... Hehehehe


Ps: lebih harus dilawan lagi diri ini, kalau hidup dan tujuannya teramat jauh dari Tuhan... ❤❤❤

Kamis, 22 September 2016

Saat-saat dimana kita sadar,  bahwa ternyata kita bisa bahagia dengan tidak sama sekali bergantung pada uang yang ada dalam genggaman,  bukan pada seseorang yang ada disisi Setia menemani,  bukan pada jabatan yang mampu membuat kita di hargai,  bukan pada aksesoris duniawi yang memanjakan mata.  Bukan..

 | ternyata kita semakin bahagia,  kala kita semakin sadar bahwa kita beruntung bersandar pada Rabb yang Maha Kaya.  Dan semakin sadar bahwa semua yang hadir dalam hidup adalah amanah,  bukan menjadi milik.  Pada hati yang selalu merasa cukup,  dengan hanya bersandar pada Nya,  selalu merasa yakin bahwa cukup dengan mempercayakan pada Nya semua akan baik-baik saja :)

Ada Alloh,
 percayalah,  semua akan baik-baik saja.. :) |



Juma'at,  23 September 2016, di bawah langit Mataram.. 
Mungkin,  hujan adalah penghubung antara langit dan bumi.
Iya jatuh dari langit,  memberi Rahmat kepada Bumi. Menyuburkan apa-apa yang gersang, memberi harapan-harapan baru pada yang sebelumnya tandus.
Dan bersamanya do'a-do'a akan terijabah, bukan?


Selamat hujan-hujanan. Jangan menghindar, hujan itu rahmat :)

Jumat, 09 September 2016

Hallo Ma, Apa kabar?

Hallo Ma,  Mama disana lagi apa?  
Semoga sedang senyum,  senyum nyenengin ala Mama;  mata besar,  bibir memanjang ke kiri dan kanan ada kelihatan gigi di tengah sedikiit yang buat tanda lahir dipipi Mama jadi kembung cantik.. 😊
Sadar kok sekarang kita memang  udah nggak bisa saling cubit-cubitan lagi,  tidur bareng menjelang magrib ngerumpiin ini itu,  nggak bisa gedor-gedor pintu kamar iin, one, iwe kalau telat bangun,  nggak bisa dengerin remonanya mama kalau kita suka taroh barang sesuka hati dan yang paling bikin kangen itu mamak yang selalu nunggu iin pulang,  nyabut iin depan pintu rumah dengan wajah sumringah trus bilang "alhamdulillah  Ana, syukur cepat pulang, jadi ada yang masak.." heheh.. Aneh ya Ma, dulu kata-kata itu kayak nerima berton2 beras buat dipukul setelah berton-ton beras dari kampus sekarang malah itu yang dikangenin. 
Nggak terasa ya Ma,  udah mau 2 tahun aja,  dan Mama tau?  Selama 2 tahun ini Bapak masih buat iin one iwe, maaf ya Ma, iin pernah coba-coba comblangin Bapak, tapi perempuannya nggak mau 😂^-^V Bapaknya juga ogah 😁, sampai akhirnya iin pernah nanya ke Bapak;
"Bapak kenapa ndak mau nikah lagi?"
"Bukan ndak mau,  cuma susah senangnya Bapak itu ada sama Mamakmu"
Pembicaraan selesai sampai disitu,  iin nggak mau tanya-tanya lagi, kalau katanya kak fit, "cukup tau saja". 

Mama tau?  Kalau sampai hari ini Bapak masih suka nangis kalau cerita tentang mama,  dan selalu di awali dengan kata "Dulu mamakmu itu... Bla bla bla"  awalnya ketawa sih,  tapi akhirnya pasti nangis lagi,  ngusep air mata lagi,  atau kadang Bapak suka sok-sokannya laki-laki, malu ketauan nangis 😊..

Iin inget dulu,  gimana mama waktu tau Bapak pulang, biar sakit-sakit, ndak kuat gerak,  jalan aja mesti di "denden", kalau ngomong suaranya diputus-putus sama asma bilang;  "siapkan Makan Bapaknya sana, kasihan Bapak capek,  perhatikan makan Bapaknya".. Mama lagi sakit lho itu.  Dan lucunya kalau Mama sama Bapak lagi berantem,  nggak sapaan, Mama masuk kamar kita,  sodok-sodok kita sambil bisik bilang;  "siapkan Makan Bapaknya sana,  telat makan Bapaknya nanti sakit".. Atau moment ini,  Mama yang selalu nunggu Bapak pulang dan Bapak ngasi Mama semua Rupiah hasil ngojeknya seharian dan Mamak selalu bilang "Alhamdulillaah... Ada uang buat beli ikan besok *sambil senyum sumringah dan cium uang*" So sweet sekalii rasanya kalau diinget-inget lagi.. 

Mama tau?  Iin kadang selalu ngebayangin kalau Mamak dengerin curhatannya iin,  galon-galonnya iin,  tentang serba-serbinya iin di usia 24 tahun,  taukan apa?  😁
"Kapan ni***h? " gimana ya responnya mama kalau denger orang-orang deket rumah tanyain iin pas ada mama di sampingnya iin?  Biar sebenernya iin udah tau jawaban plus responnya mama gimana..  😊

Karna iin ini perempuan,  yang setelah menikah jelas harus ikut sama laki-laki. Tentang kriteria yang dulu mama dan bapak sebutin dari abc sampai znya,  iin berusaha mengerti bahwa setiap orang tua ingin yang terbaik untuk anaknya,  ingin memastikan bahwa ketika tanggungjawab itu berpindah tangan,  anak mereka berada pada tangan seseorang yang tepat, tangan seseorang yang bisa memastikan bahwa ditangannya anak perempuan mereka akan baik-baik saja,  seperti apa yang telah mereka lakukan selama bertahun-tahun.


Huuumm...  Iin mungkin nggak akan pernah bisa mengerti bagaimana perasaan Bapak waktu iin cerita si ini dan si itu,  atau waktu si ini dan si itu memberanikan diri datang kerumah,  yang bisa iin lihat waktu itu wajah bapak suka jadi "aneh" aja ma,  heheh..  Mungkin bener kata Mas Gun;  bagi para ayah,  setiap laki-laki adalah perpampok dalam hidup mereka,  bagaimana nggak, laki-laki yang antah berantah sudah berani-beraninya membuat anak perempuan mereka jatuh, cinta lagi dan akan membawa anak perempuan yang mereka besarkan selama bertahun-tahun pergi begitu saja.. :)


Semakin kesini,  iin makin mengerti kalau kebaikan hati, keluhuran budi, kecerdasan dan segala sesuatu yang bersifat karakter itu jauh lebih menarik daripada kecantikan atau ketampanan yang melekat kepadanya.
karakter itu lebih kuat, sebab ia dibentuk dari bertahun-tahun ujian hidup, ilmu pengetahuan yang diserap, lingkungan & didikan orang-orang baik. sementara kecantikan & ketampanan itu bisa dibuat dalam sehari. Dan secepat itu ia hilang oleh waktu.. :)


Mama doakan iin ya semoga Alloh pertemukan iin dengan orang-orang yang baik dan menyisakan satu saja orang baik itu buat iin :)