Senin, 02 September 2019

Surga dunia

“Di dunia itu terdapat surga. Barangsiapa yang tidak memasukinya, maka dia tidak akan memperoleh surga akhirat.” Demikian ujar Ibnu Taimiyah rahimahullahu Ta’ala.


Dunia, di tanah yang kita pijak ini—suka dan duka jaraknya begitu dekat. Datang silih berganti seolah bergulir dari tegukan pertama, kedua, ketiga lalu disusul tegukan-tegukan berikutnya.


Maka berbahagialah mereka, yang mampu menemukan surga di dalam dunia yang kesenangannya hanya sekedipan mata. Mereka yang tidak hilang syukurnya meski musibah datang bertubi-tubi menimpa.


Jiwanya telah terlebih dahulu jatuh cinta kepada Allah, prasangkanya, lisannya…


“Surga dunia..” Terang Ibnul Qayyim rahimahullahu, “..adalah dengan engkau mencintai Allah, mengenal Allah, senantiasa mengingat Allah..”


“…merasa tenang dan thuma’ninah ketika bermunajat kepada-Nya. Menjadikan kecintaan hakiki hanya untuk-Nya, memiliki rasa takut namun dibarengi pengharapan seutuhnya kepada-Nya. Senantiasa bertawakkal kepada-Nya, dan hanya menyerahkan segala urusan kepada-Nya.” Demikianlah, beliau rahimahullahu Ta’ala menjelaskan.


Maka… tersebutlah surga dunia.


…sudahkah kita memasukinya? Sudahkah kita saling mengingatkan untuk meraihnya? Diriku, terutama. Pahamilah, bahwa kedipan matamu itu tak akan pernah lebih lama jika dibandingkan dengan terpejamnya matamu, nantinya.


Mari menua bersama, dan engkau selalu menjawab, “hanya sampai tua?”


Tidak! Tentu saja.


Bersamamu, adalah upayaku untuk menggapai Ridho tertinggi dari-Nya. Bersamamu, adalah karunia terindah dari-Nya.


Hingga pada akhirnya nanti.. waktu akan berlalu sedemikian cepat tak terasa, hingga masing-masing dari kita harus meninggalkan atau ditinggalkan.


Maka kemudian, ketika kita telah sampai di jannah-Nya, kita mendapatkan Allah menepati janjiNya. Bahwa surga, adalah tempat bertemunya kembali hamba-hamba yang saling mencintai karena-Nya.


Maa syaa Allah.. maka sungguh, betapa beruntungnya mereka yang benci dan cintanya terhadap sesuatu adalah semata-mata karena Allah♡


Jumat, 30 Agustus 2019

Di satu pagi yang cerah, setelah mengantar Pak Suami ke sekolah.
“Kak, Adek berangkat ya?”
“Iya, hati-hati di jalan.”
“nggih.. 😁”
“Jas hujannya ada di dalam jok ya, Dek.”
“Oke!”
“Itu bensinnya tinggal sedikit, nanti beli ya.”
“Oke!”
“Ntar kalau ada apa-apa bilang.”
“syiaaaaappp"
“Sudah tahu kan jalannya? Inget-inget, ikutin jalan aja, nanti ketemu gerbang belok kanan, terus belok kiri  sampai ketemu bundaran,  Kaya yang tadi Kakak tunjukin.”
“mmm…”
“Kalau nyasar nanti langsung telpon.”
“Oke!”
“Itu helmnya sudah dikunci kan?.”
“hehehe.. Aamaan
“pamit dulu Assalamu’alaikum!”

Ternyata, I Love You banyak sinonimnya. :') 

Ya Allah, jadikanlah kami manusia yang selalu takut akan neraka-Mu. Aku takut menjadi seperti manusia kebanyakan, yang nampak tak peduli tentang jadi apa setelah mati nanti.


Hal yang paling kusukai dari berdoa adalah, doa bisa melapangkan hatiku. Terkabul atau tidak, setidaknya aku lega Allah selalu ada mendengarku :)


Membangun visi misi keluarga itu berangkat dari memilih pasangan hidup.

Libatkan Allah terus, minta Allah untuk menuntun. Bersegera, tapi jangan tergesa. Pilihlah yang memiliki nilai dan prinsip yang tak berseberangan secara fundamental denganmu, apapun itu, yang menjadi peganganmu.
Sholeh/ah itu luas. Peranan yang mau diambil untuk berusaha menjadi alim atau takwa itu banyak. Yang wajib adalah wajib. Sisanya soal pemikiran, kedewasaan, karakter, keluarga besarnya, pekerjaan, dan lain-lain takarlah di takaran yang sekiranya bisa kita tolerir. Sesuai kemampuanmu menerima.
Bertanyalah saat proses, pelajari dirinya dari caranya memerlakukan keluarganya atau anak kecil, periksa hubungannya dengan teman dekatnya. Ikhtiar ini, bisa kita optimalkan.
Ini nasihat, buat teman-teman yang sedang berproses. Selanjutnya, sejak awal hingga akhir bertawakkallah kepada Allah..
Ingat, jangan dicari kesempurnaan itu. Tak bakal kamu temukan pun sampai habis daya kamu mencarinya.
Ingat-ingatlah, menikah ini ajang beribadah. Kalaupun kamu punya sedikit petunjuk tentang dia dari usahamu mencari, mengorek, sedang sudah istikharah, direstui, dan memiliki kemantapan hati, maka…selama kamu libatkan Allah dan restu kedua orangtuamu, Allah nanti yang akan menuntunmu dengan caraNya.
Berumahtangga itu tak mudah, tapi dengan kuasaNya, pasti kita sanggup melaluinya.

Minggu, 25 Agustus 2019

Bahagia

Ada sebagian orang—yang untuk—merasa bahagia, mereka harus pergi ke luar kota. Dan sebagian yang lain, bahagia, bagi mereka, “…sederhana.”
“Bahagia itu disini,” menepuk dadanya. “Jiwa yang mengenal Allah, jiwa yang menghamba dengan sepenuhnya kepada Allah.” Barangkali, demikianlah yang akan dikatakan orang-orang yang mampu merasakan bahagia dengan sederhana. Maa syaa Allah..
Untuk bahagia, kita kira sejauh apakah kaki harus melangkah? Sedangkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullahu Ta’ala pernah berkata ketika berada di dalam penjara, “Seandainya benteng ini dipenuhi dengan emas, tidak ada yang bisa menandingi kenikmatanku berada di sini.”
Jiwa-jiwa yang tetap merasa tenang, jiwa-jiwa yang tetap teguh dalam pendirian. Jiwa yang bersabar, jiwa yang ikhlas, jiwa yang jujur, jiwa yang setelah maksiatnya segera kembali dan bertaubat kepada Rabb-nya.
Merekalah, yang memiliki kebahagiaan yang sejati. Bahagia yang tidak harus dicari lagi, bahagia yang tidak akan meninggalkannya pergi. Bahagia yang tidak membutuhkan harta untuk dibeli.
Orang-orang seperti ini, dengan melihatnya saja akan menumbuhkan getaran di dalam hati. Seolah bahagianya terpancar, menular.. Maa syaa Allah, laa quwwata illa billah..
“Seandainya,..” Demikian ujar seorang salaf, “..seandainya para raja dan pangeran itu mengetahui kenikmatan yang ada di hati kami ini, tentu mereka akan menyiksa kami dengan pedang.”